0
Thumbs Up
Thumbs Down

Oma Irama, Dangdut Kampungan: Sound Of Muslim dan Perubahan Sosial

Republika Online
Republika Online - Sun, 13 Aug 2017 05:03
Dilihat: 77
Oma Irama, Dangdut Kampungan: Sound Of Muslim dan Perubahan Sosial

Oleh: Lukman Hakiem*

"PPP bisa naik suaranya," ujar staf pengajar Fisip-UGM, Drs. Afan Gaffar, M.A (kelak menjadi guru besar Fisipol UGM). yang berdiri di sebelah saya.

Di siang yang panas itu beberapa puluh tahun silam, di antara ribuan massa di alun-alun utara Yogyakarta, tidak sengaja saya bertemu dengan senior yang saya sapa "Bang Afan" itu.

Hari itu, menjelang pemilu 1982, PPP menggelar kampanye di alun-alun utara. Alun-alun penuh sesak, jalan menuju tempat kampanye, tidak kurang sesaknya. Bersusah payah, saya dan Bang Afan --yang saat itu sedang pulang ke Tanah Air untuk penelitian lapangan bagi disertasi doktornya di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat-- menerobos padatnya massa.

Kampanye akan dimulai sekitar pukul dua siang, tapi massa sudah memadati alun-alun utara sejak pagi. Seorang peserta kampanye mengaku, berangkat dari rumahnya di Wates, sesudah shalat Subuh supaya kebagian tempat di depan. "Ternyata, sampai di sini sudah penuh," keluhnya.

Seorang peserta kampanye yang mengaku berasal dari Magelang menceritakan perjuangannya untuk bisa sampai di alun-alun utara. "Saya harus bergerilya Mas," katanya.

Di zaman Orde Baru itu, pemilu memang direkayasa untuk hanya dan selalu dimenangkan oleh Golkar, sebuah organisasi besutan penguasa yang tidak pernah mau disebut partai politik tetapi selalu ikut pemilu.

Salah satu bentuk rekayasanya, rakyat dari luar Yogya tidak boleh menghadiri kampanye partai politik (PPP dan PDI) di Yogya. Penjagaan di perbatasan provinsi di perketat. Kendaraan umum dan pribadi digeledah untuk mencari calon peserta kampanye. Siapa saja yang diduga akan menghadiri kampanye partai politik, langsung dihalau, disuruh balik kanan.

Seketat-ketat penjagaan aparat, rakyat selalu punya cara untuk menembus barikade. Maka, di siang yang terik itu, banyak saya temukan peserta kampanye PPP yang berasal dari Klaten, Muntilan, dan Purworejo.

Melihat padatnya peserta kampanye, Bang Afan kembali berkata: "Kalau pemilu berlangsung jujur dan adil, suara PPP bakal naik tajam."

Massa PPP hari itu melimpah ruah, karena yang akan menjadi juru kampanye adalah Raja Dangdut Rhoma Irama.

Daya panggil Rhoma Irama yang bukan pengurus partai, juga bukan caleg PPP, memang amat luar biasa.
Beberapa malam sebelumnya, jalan-jalan di Yogya tiba-tiba menjadi sepi. Usut punya usut, ternyata malam itu Rhoma Irama tampil menjadi juru kampanye PPP di RRI dan TVRI. Jauh sebelum jam tayang, para penggemar Rhoma Irama dengan khusyuk sudah duduk di depan televisi untuk menyimak pidato kampanye Rhoma Irama.
Di alun-alun utara, sekitar pukul tiga sore, Rhoma Irama yang ditunggu massa akhirnya datang juga. Dia langsung naik ke panggung, dan berpidato singkat:


"Saya datang di Yogya untuk mengalahkan Golkar. Kalau PPP menang di Yogya, saya dan Soneta akan show gratis di sini. Allahu Akbar!" Sesudah pidato singkat itu, Rhoma Irama pamit, dan massa bubar dengan tertib.

Berita Terkait
  • Hatta-Sjafruddin: Kisah Perang Uang di Awal Kemerdekaan
  • Antara 'University' dan 'Al Jamiah' dengan 'College' dan 'Kulliyah'
  • Orang Islam di Majapahit
Berita Lainnya
  • Usai KTT G20, PM Turnbull ke Prancis Naik Jet Pribadi Macron
  • Warga Medan Serahkan Koin Senilai Rp 700 Ribu ke Pemerintah
Berita Populer Dari Republika Online
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
gopego
Rumah
rumah123
Love Indonesia
CENTROONE
Voice of America
Hello Pet
IDGEEKS
telsetNews
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
MuterFilm
Rancahpost
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Camargus
Sehatly
Hetanews
Inikata