0
Thumbs Up
Thumbs Down

Aksi Massa Generasi Milenial Masih Miliki Kelemahan

Republika Online
Republika Online - Sat, 16 Nov 2019 15:50
Dilihat: 29
Aksi Massa Generasi Milenial Masih Miliki Kelemahan

SLEMAN -- Aksi massa mahasiswa dan elemen muda beberapa waktu llau masif terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Tapi, sosiolog UGM, Arie Sujito menilai, aksi-aksi itu masih memiliki banyak kelemahan.

Salah satunya terlihat di Aksi Gejayan Memanggil yang diusung elemen atas nama Aliansi Rakyat Bergerak (ARB). Ia merasa, aksi itu harus dilihat secara obyektif agar esensinya tidak mengalami distorsi.

Arie mengatakan, aksi massa akan jadi relevan bila memiliki tujuan mempengaruhi dan mendorong demokrasi lebih baik. Namun, jika dalam praktiknya tidak memiliki kejelasan arah, menjadi tidak produktif.

"Mobilisasi massa oke, demonstrasi oke, tapi jebakan terhadap praktik dan tindak kekerasan harus dicegah," kata Arie, beberapa waktu lalu.

Untuk itu, ia menekankan, kesadaran datang sebagai subyek itu harus ada dalam setiap aksi sosial, siapapun yang melakukan. Menurut Arie, ketidakjelasan arah terjadi ketika massa tidak memahami tujuan aksi.

Selain itu, mereka belum melakukan kajian mendalam terkait tuntutan-tuntutan yang akan disampaikan. Sebab, lanjut Arie, setiap aksi itu harus lahir dari dorongan mereka untuk tujuan apa sebuah aksi.

"Harus kita apresiasi, tapi pada saat yang sama, saat aksi selesai harus ada kritik autokritik supaya apakah aksi ini akan menjawab sesuai harapan atau tidak? supaya terus berbenah," ujar Arie.

Bagi Arie, Aksi Gejayan Memanggil masih memiliki kelemahan-kelemahan itu. Namun, ia menyampaikan apresiasi terhadap upaya-upaya aksi itu karena masih ada sensitivitas politik di dalamnya.

Tapi, jadi tidak jelas tujuannya untuk sekadar aksi atau untuk perubahan atau untuk apa. Sebab, kala itu, spektrumnya luas, dan siapapun bisa bergabung dengan tuntutan yang beragam pula.

Salah satu aktivis mahasiswa yang turut dalam Aksi Gejayan Memanggil, Gendis Syari Widodari mengungkapkan, aksi itu merupakan usaha untuk menciptakan kesamaan gerak atas banyaknya tuntutan masyarakat.

Utamanya, kebijakan-kebijakan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat. Namun, Gendis sepakat, aksi massa memang tidak boleh jadi karnaval politik dan gerakan itu hadir memang perlu melihat konteks.

"Dalam mengkritisi kebijakan publik, massa aksi perlu memiliki tingkat pemahaman yang lebih atas isu yang akan diusung dalam aksi," ujar Gendis.



Berita Terkait
  • LPSK Dukung Pengungkapan Kasus Penembakan Mahasiswa Kendari
  • Aksi Karnaval Demokrasi Soroti Pengusutan Kasus HAM
  • ICW Tanggapi Aksi Mahasiswa Hari Ini
Berita Lainnya
  • Viola Davis Ikut Tanggapi Martin Scorsese
  • Dompet Dhuafa Ajak Sumbang Sepatu Layak Pakai di EJM 2019

Aksi Massa Generasi Milenial Masih Miliki Kelemahan

Aksi Massa Generasi Milenial Masih Miliki Kelemahan

Aksi Massa Generasi Milenial Masih Miliki Kelemahan

Aksi Massa Generasi Milenial Masih Miliki Kelemahan

Aksi Massa Generasi Milenial Masih Miliki Kelemahan

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya