0
Thumbs Up
Thumbs Down

Begini Cara Ilmuwan Memprediksi Masa Hidup Komet

Republika Online
Republika Online - Mon, 16 May 2022 00:53
Dilihat: 68
Begini Cara Ilmuwan Memprediksi Masa Hidup Komet

JAKARTA -- Sebuah komet periode panjang baru telah ditemukan mendekati tata surya bagian dalam. Para astronom menghitung orbit dan menemukan bahwa komet baru akan lewat dekat dengan matahari kita, dalam orbit Merkurius.

Semua indikasi menunjukkan komet menjadi lebih terang, setidaknya cukup terang untuk dilihat menggunakan teropong, setelah perihelionnya, atau mendekati matahari. Akan tetapi, apakah komet akan mengelilingi matahari atau komet itu akan hancur? Belum bisa dipastikan.

Pada Juli 1991, John Bortle seorang astronom amatir dari Amerika Serikat, mengembangkan model yang dapat digunakan untuk memprediksi apakah sebuah komet akan bertahan melewati perihelionnya atau titik terdekat dengan matahari.

Model ini dikenal sebagai batas kelangsungan hidup komet Bortle. Metode ini masih merupakan alat yang sangat berharga bagi para peneliti komet dan mereka yang berharap untuk melihat sekilas komet.

Apa yang dilakukan John Bortle?

Bortle meneliti 85 komet yang ditemukan dari tahun 1800 hingga 1989. Matahari berada dalam jarak 0,5 unit astronomi (AU). Artinya, komet datang dalam jarak setengah jarak antara Bumi dan matahari, atau kurang. Empat di antaranya adalah komet periode pendek yang mengorbit matahari dalam waktu kurang dari 200 tahun.

Sebanyak 81 komet yang tersisa adalah komet periode panjang yang membutuhkan waktu lebih dari 200 tahun untuk mengorbit matahari. Dia mencatat hasil dari masing-masing 85 komet.

Saat mereka mendekati matahari, enam belas dari mereka hancur. Enam komet lagi berhasil mencapai perihelion, tetapi mereka menjadi tidak stabil dan memudar secara signifikan. Komet yang tersisa selamat dari perihelion.

Bortle kemudian melihat magnitudo mutlak setiap komet. Magnitudo mutlak sebuah komet adalah ukuran kecemerlangan sejatinya (dalam hal ini, seberapa terang komet jika jaraknya satu AU dari Bumi dan Matahari).

Bortle mengidentifikasi hubungan antara jarak perihelion dan magnitudo absolut (kecerahan pada 1 AU) (titik terdekat dengan matahari). Dia menemukan bahwa komet yang secara intrinsik lebih redup tidak bertahan saat mendekati matahari.

Pada jarak perihelion seperti itu, komet yang lebih terang mungkin bisa bertahan. Sebaliknya, komet yang lemah akan hancur pada jarak yang sama dari matahari.


Berita Terkait
    Berita Lainnya
    • Ryan Gosling Jago Masak, Eva Mendes Bagian Cuci Piring
    • Calon Pemain Naturalisasi, Sandy Walsh dan Jordi Amat Sudah Tiba di Indonesia

    Begini Cara Ilmuwan Memprediksi Masa Hidup Komet

    Begini Cara Ilmuwan Memprediksi Masa Hidup Komet

    Begini Cara Ilmuwan Memprediksi Masa Hidup Komet

    Begini Cara Ilmuwan Memprediksi Masa Hidup Komet

    Begini Cara Ilmuwan Memprediksi Masa Hidup Komet

      
    PARTNER KAMI
    JPNN
    genpi
    Republika Online
    LIPUTAN6
    okezone
    BBC
    bintang
    bola
    Antvklik
    rumah123
    Rumah
    Love Indonesia
    CENTROONE
    wartaekonomi
    Voice of America
    Popular
    Gocekan
    Teqnoforia
    Angelsontrip
    Makanyuks
    BisnisWisata
    Jakarta Kita
    Indonesia Raya News
    RajaMobil
    Mobil123
    Otospirit
    MakeMac
    Indotelko
    Inditourist
    TEKNOSAINS
    MotorExpertz
    Mobil WOW
    Oto
    Kpop Chart
    salamkorea
    slidegossip
    Hotabis
    INFOJAMBI
    Japanese STATION
    pijar
    SeleBuzz
    Mobilmo
    Cintamobil
    Football5star
    Citra Indonesia
    OTORAI
    Sehatly
    Hetanews
    Inikata
    Nusabali
    Garduoto
    batampos
    covesia
    carmudi
    idnation
    inipasti
    teknorush
    winnetnews
    mediaapakabar
    carvaganza
    mediakepri
    kabarsurabaya