0
Thumbs Up
Thumbs Down

Berkat IPO, Kekayaan Miliarder Teknologi China Ini Meroket

wartaekonomi
wartaekonomi - Thu, 29 Oct 2020 06:50
Dilihat: 66
Jakarta

Saat pandemi berdampak terhadap mayoritas industri dunia, IPO jadi salah satu solusi menambah pemasukan perusahaan. Nah, hal itulah yang Ant Group lakukan. Berkat IPO, perusahaan yang dibesut oleh taipan teknologi, Jack Ma itu meraup 34 miliar dolar AS (sekitar Rp498 triliun).

Penjualan saham Ant Group, perusahaan finansial teknologi di Hong Kong kabarnya akan meningkatkan kekayaan Jack Ma. Bloomberg memperkirakan kekayaan pria berusia 56 tahun itu mencapai USD71,1 miliar atau orang terkaya di dunia nomor ke-11. Ma yang memiliki 8,8% saham di Ant Group senilai lebih dari USD 27 miliar pasca-IPO.

Dengan begitu, kekayaan Ma bisa melebihi kekayaan pendiri Oracle (ORCL) Larry Ellison, pewaris L'Oreal (LRLCF) Francoise Bettencourt Meyers, dan anggota individu Waltons yang keluarganya memiliki Walmart (WMT).

Baca Juga: Kisah Perusahaan Raksasa: Gudang Garam, dari Industri Rumahan Jadi Pabrik Rokok Raksasa

Baca Juga: Berkat IPO Ant Group, Jack Ma Bawa Pulang Uang Rp395 Triliun!

Ant Group mencatatkan rekor usai meraup harga pencatatan ganda di Bursa Efek Hong Kong dan Shanghai masing-masing pada USD10,32. Itu menunjukkan IPO menghasilkan lebih dari USD34,1 miliar dan nilai perusahaan menjadi sekitar USD310 miliar. IPO Ant Group pun mampu mengalahkan IPO perusahaan minyak asal Arab Saudi, Aramco, yang menghasilkan USD29,4 miliar (Rp430 triliun) ketika melakukan IPO pada Desember lalu.

Pendiri Alibaba Jack Ma menyatakan optimismenya IPO Ant Group di Shanghai dan Hong Kong akan memecahkan rekor IPO terbesar dalam sejarah. "Ini adalah pertama kali IPO terbesar dalam sejarah manusia terjadi di luar Kota New York," kata Ma, dilansir Russia Today. Dia mengungkapkan, IPO tersebut merupakan suatu "keajaiban". "Kita tidak berpikir itu lima tahun lalu atau tiga tahun lalu," ucapnya.

Selain Jack Ma, IPO juga menjadi pintu masuk pengusaha besar China untuk melambungkan kekayaan. Langkah ini didukung Beijing. Namun, Pemerintah China meminta perusahaan teknologi besar untuk melaksanakan IPO di bursa saham dalam negeri dan karena faktor perang dagang dengan Amerika Serikat (AS). China sangat berkeinginan untuk meningkatkan investor konstitusional yang sulit untuk dibujuk.

Sebagai informasi, Ant Group adalah perusahaan teknologi keuangan yang berafiliasi dengan grup e-commerce China Alibaba yang go public di Bursa Efek New York pada 2014. Miliarder Jack Ma memiliki kendali penuh atas Ant, dan mendapat untung besar dari penjualan saham.

Melihat kesuksesan Jack Ma dengan Alibaba, Ant Group dengan cepat tumbuh menjadi perusahaan teknologi paling kuat di dunia. Ant Group pun hadir dalam setiap aspek kehidupan finansial di China, dari akun investasi dan produk tabungan mikro hingga asuransi, skor kredit, dan bahkan profil kencan.

Alipay merupakan platform teknologi finansial yang dimiliki Ant Group. Satu di antara aplikasi pembayaran perusahaan, Alipay, memiliki 731 juta pengguna aktif bulanan pada September. Nilai transaksi pada Alipay mencapai USD17,7 triliun dalam 12 bulan. Laba kotor untuk periode tersebut naik 74% menjadi USD10,4 miliar. "IPO ini juga akan mengakselerasi tujuan digitalisasi industri pelayanan di China dan mengendalikan permintaan domestik," kata Jack Ma.

Hal senada diungkapkan CEO Ant Group Eric Jing. Dia mengungkapkan, dengan menjadi perusahaan publik, akan memperkuat transparansi bagi semua pihak, baik pelanggan, mitra bisnis, pegawai, pemegang saham, maupun pemerintah. "Melalui komitmen kita untuk melayani, kita akan membuat seluruh masyarakat semakin tumbuh bersama," papar Jing.

Xiaomeng Lu, analis geoteknologi senior di Eurasia Group, mengatakan bahwa Ant juga siap untuk memanfaatkan rencana pembangunan ekonomi terbaru Pemerintah China yang sedang disusun minggu ini. "Ant Group dipandang sebagai juara teknologi nasional. Dia berinvestasi dalam AI dan berinvestasi dalam block chain. Ini adalah prioritas untuk Presiden China Xi Jinping," ucap Lu.

Kepala Investasi di Kaiyuan Capital dan Mantan Kepala Investasi di Adamas Asset Management Brock Silvers menyatakan bahwa semakin banyak perusahaan China telah mencari perlindungan di bursa nasional karena ketegangan antara Washington dan Beijing meningkat, dan kesuksesan Ant dapat mendorong lebih banyak perusahaan untuk mengikutinya.

Ancaman dan pembatasan AS terhadap perusahaan teknologi China seperti Huawei, TikTok, dan WeChat telah mengirimkan peringatan yang jelas, sementara pengawasan terhadap perusahaan China di Wall Street meningkat.

Melalui raksasa e-commerce Alibaba dan Ant Group, Ma telah mentransformasi industri internet di China dan memiliki ratusan juta pelanggan di Negeri Panda itu. "Semua orang bisa menemukan dengan mudah dampak Alibaba dan Ant di China," kata Duncan Clark, penulis buku Alibaba: The House That Jack Ma Built dan chairman perusahaan konsultan investasi BDA China.

"Jika kamu tinggal di China, kamu akan menemukan bahwa perusahaan yang didirikan Jack Ma itu sangat keren. Semua orang pun akan bersentuhan dengan mereka," tutur Clark. Dikatakan bahwa kesuksesan Ma lebih dari sekadar menggunakan aplikasi atau situs belanja online. Sejumlah besar orang China dinilai mengasosiasikan produk milik Jack Ma dengan peningkatan kemakmuran 10 tahun terakhir. "Ada unsur emosional di dalamnya," imbuh Clark.

Awalnya Ma menciptakan Alipay sebagai solusi karena reputasi pelayanan perbankan yang buruk bagi pengusaha dan masyarakat. "Pemilik toko tak perlu pergi ke bank untuk meminjam," kata Zennon Kapron, pendiri firma penelitian Kapronasia. Ant Group mampu mengubah segalanya di China. "Visi Ma yang sejak awal memudahkan masyarakat untuk bisa melakukan segala sesuatunya lebih baik dan menjadikan Alipay sebagai alat yang mampu mewujudkannya," katanya.

Ditambahkan Edith Yeung, pakar internet China, Ma merepresentasikan mimpi agung orang China. "Semua orang ingin seperti dia (Ma)," kata Yeung. Dia menambahkan, Ma mencapai sukses dengan gaya Silicon Valley.

Pandemi Dorong Perusahaan China Pilih IPO

Bukan hanya Ma yang menjadi kaya raya karena IPO di China. Zhong Shanshan (65) merupakan miliarder China yang juga bertambah kaya karena IPO. Pria yang disebut dengan Lone Wolf oleh media China itu mampu meraih USD17 miliar setelah perusahaan obat yang didirikannya melaksanakan IPO pada April lalu. Saham perusahaannya pun naik 26 kali lipat.

Zhong memulai petualangan sejak akhir 1980-an setelah mengundurkan diri sebagai reporter dan memilih berbisnis air kemasan di Hainan. Pada 1996, dia mendirikan Nongfu Spring, perusahaan minuman. Dia juga mengakuisisi perusahaan farmasi Beijing Wantai Biological Pharmacy Enterprise Co. Perusahaan farmasi tersebut juga memproduksi rapid test Covid-19 yang diakui Amerika Serikat.

Selain Zhong, Gan Zhongru, mantan dosen di Universitas Peking, juga menjadi miliarder setelah perusahaannya, Gan & Lee Pharmaceuticals, melaksanakan IPO. Kekayaan Gan kini mencapai USD6,1 miliar. Goldman Sachs Group Inc dan Hillhouse Capital Management merupakan investor yang membeli saham perusahaan tersebut.

Sedikitnya 24 orang menjadi miliarder di China dari Januari hingga Juni lalu karena IPO. Melansir Bloomberg Billionaire Index, mereka adalah mantan guru, akuntan, dan pengembang peranti lunak. Melaksanakan IPO menjadi strategi bagi miliarder untuk meningkatkan kekayaan. Strategi itu juga sangat tepat dilaksanakan ketika pandemi korona melanda seluruh dunia. IPO juga menangkap peluang euforia ketika banyak investor China tertarik untuk membeli saham.

Sebanyak lebih dari 118 perusahaan melaksanakan IPO di Shanghai dan Shenzhen hingga Juni lalu dan mampu meraup USD20 miliar. Itu meningkat dua kali lipat dibandingkan semester awal 2019. Shanghai pun menjadi lokasi IPO nomor satu dan mengalahkan New York dan Hong Kong.

"Covid-19 memiliki dampak signifikan terhadap aktivitas IPO di China," kata Kepala Greater China IPO di EY, Terence Ho. "Saham IPO di China terus berkembang. Ini menunjukkan pertumbuhan investor semakin banyak," ungkapnya.

Ho mengungkapkan, IPO merupakan proses untuk menambah nilai perusahaan. Itu juga bisa membuat suatu perusahaan menjadi adder premium. "IPO mampu mengungkap kekayaan tersembunyi para miliarder," kata Ho.

Perusahaan yang menggelar IPO saat pandemi pun beragam. Namun, perusahaan perawatan kesehatan dan teknologi menjadi sektor yang sangat berpotensi untuk melakukan IPO. "Kita memperkirakan banyak perusahaan yang tidak terkena dampak korona akan mendominasi IPO hingga tahun depan," kata John Lee, wakil pemimpin Greater China di UBS Global Banking.

Penulis: Redaksi

Editor: Tanayastri Dini Isna


Foto: REUTERS/Shu Zhang

Sumber: wartaekonomi

Berkat IPO, Kekayaan Miliarder Teknologi China Ini Meroket

Berkat IPO, Kekayaan Miliarder Teknologi China Ini Meroket

Berkat IPO, Kekayaan Miliarder Teknologi China Ini Meroket

Berkat IPO, Kekayaan Miliarder Teknologi China Ini Meroket

Berkat IPO, Kekayaan Miliarder Teknologi China Ini Meroket

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya