0
Thumbs Up
Thumbs Down

Berkelindan dengan Perangkap Budaya

Nusabali
Nusabali - Sun, 20 Sep 2020 09:01
Dilihat: 41
Berkelindan dengan Perangkap Budaya
Tikus merupakan hama yang meresahkan dan harus dinafikan kehadirannya! Dalam hal demikian, tidak ada yang protes atau menghalangi tindak aksi itu. Krama Bali kadang masuk perangkap, perangkap budaya yang minim penggunaan nalar atau budaya kritis. Akibatnya, mereka tersandung batu masalah.

Menurut Jaques Derrida, seorang filsuf Prancis dan pengusung tema dekonstruksi dalam filsafat paska-modernisme, menyebut fenomena budaya itu sebagai fonosentrisme. Menurut Derrida, fonosentrisme merupakan konsep yang meyakini bahwa suatu ucapan dianggap sebagai sumber kebenaran otentik. Karena keyakinan, seseorang atau sekelompok orang terperosok ke liang makna subyektif, yang kurang atau bahkan tidak mengandung kebenaran obyektif. Nalar kritis amat penting disisipkan ke dalam keyakinan budaya, apalagi berkait dengan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan orang banyak.

Memang, keyakinan harus di kedepankan, namun keyakinan harus didampingi dengan pemikiran kritis. Menurut Derrida, keyakinan bukanlah prioritas primer yang meminggirkan realita. Realita sering menunjukkan bahwa keyakinan budaya berelasi dengan berbagai kemungkinan makna, bisa begini atau begitu, bisa negatif atau positif, menang atau kalah!

Pemikiran Derrida mungkin terbukti dalam situasi wabah mematikan saat ini. Keyakinan religi, seperti melakukan panca yadnya tetap dapat dilangsungkan, tetapi diimbau untuk tetap mematuhi protokol kesehatan secara disiplin, taat azas kesehatan dan keamanan, menjaga jarak aman, memperlebar jarak interaksi dengan sesama, serta menjauhi kerumunan. Sikap demikian amat bijaksana, karena kesehatan dan keselamatan merupakan prioritas primer dalam mewujudkan keyakinan menjadi sebuah realita obyektif.

Ada satu konsep lain yang perlu disimak maknanya, yaitu metafisika kehadiran. Sederhananya, konsep ini bermakna bahwa kehadiran merupakan bukti obyektif. Misalnya, ketika ada kematian anggota keluarga dekat, kehadiran di tempat duka merupakan budaya dan kewajiban sosial. Itu dalam situasi normal! Tetapi, apakah kehadiran hanya memiliki makna belasungkawa? Menurut Derrida, ketidak-hadiran juga 'berkelindan' atau erat menjadi satu dengan teks kematian. Misalnya, 'sebel' atau 'cuntaka' amat terkait dengan dukacita, mustahil 'kesebelan' atau 'kecuntakaan' terlepas dari teks kematian! Jadi, kehadiran bukanlah satu-satunya representasi dari makna dukacita atau kekerabatan.

Saat Galungan, persembahyangan di pura diatur jumlah maupun jarak antara 'pamedek' satu dengan lainnya. Kerumunan umat terhindarkan dan penggunaan 'masker' ditertibkan, semua itu dimaksudkan menjadikan kesehatan dan keselamatan jiwa menjadi prioritas primer, meminjam istilahnya Jacques Derrida. Dengan sikap budaya kritis terhadap situasi Covid-19, maka penularan pandemi ini dapat diminimalkan.

Sikap budaya kritis demikian tidak hanya dimiliki dan disikapi saat wabah, tetapi ia harus terintegrasi dalam sistem sosio-budaya krama Bali secara utuh dan konsisten. Sikap budaya kritis harus menjadi disiplin dan keyakinan krama Bali dalam prikehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pembelajaran berharga dari Filsafat Dekonstruksinya Derrida adalah menyesuaikan 'narasi-narasi besar' sosio-budaya-religi krama Bali dengan 'narasi-narasi kecil' realita kehidupan saat ini dan masa yang akan datang. Misalnya, pelaksanaan panca yadnya dapat dilakukan dalam tingkatan ' utamaning utama' sampai dengan 'nistaning nista' dengan satu makna, yaitu semuanya utama! Sikap demikian dalam melaksanakan yadnya merupakan penolakan terhadap logosentrisme, atau kebenaran transedental selalu berada di balik yang tampak di permukaan. Sebaliknya, yang tampak di permukaan sering tidak berkelindan dengan yang berada di balik sebuah keyakinan. Semoga. *

Prof.Dewa Komang Tantra,MSc.,Ph.D
(Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya)
Sumber: Nusabali

Berkelindan dengan Perangkap Budaya

Berkelindan dengan Perangkap Budaya

Berkelindan dengan Perangkap Budaya

Berkelindan dengan Perangkap Budaya

Berkelindan dengan Perangkap Budaya

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya