0
Thumbs Up
Thumbs Down

Covid Mengganas, Masyarakat Sebenarnya Khawatir atau tidak?

Republika Online
Republika Online - Mon, 03 Aug 2020 15:58
Dilihat: 39
Covid Mengganas, Masyarakat Sebenarnya Khawatir atau tidak?

oleh Nugroho Habibi, Dessy Suciati Saputri, Muhammad Fauzi Ridwan

Alih-alih mereda, pandemi Covid-19 di Indonesia sepertinya semakin mengganas dengan jumlah total pasien positif Covid-19 yang telah melewati angka psikologis 100 ribu kasus pada pekan lalu. Dengan angka kematian 4,7 persen, rata-rata itu lebih tinggi 0,8 persen dari tingkat kematian global.

Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 pada Ahad (2/8) sore merilis dari 20.032 spesimen yang diperiksa, ditemukan sebanyak 1.519 kasus positif Covid-19, sehingga menjadikan total akumulasi kasus mencapai 111.455 orang. Sedangkan, sebanyak 1.056 orang dinyatakan sembuh dan menjadikan total 68.975 orang telah sembuh. Adapun, total kasus meninggal mencapai 5.236.

Satgas Penanganan Covid-19 pada pekan lalu juga merilis data, bahwa hanya ada 43 kabupaten/kota di Indonesia masih nol kasus Covid-19 atau sama sekali belum mencatatkan kasus akibat pandemi tersebut. Itu artinya, hanya 8,4 persen dari keseluruhan jumlah kabupaten/kota di Indonesia.

Per 27 Juli 2020, zona merah Covid-19 bertambah dari 35 wilayah menjadi 53 wilayah. Jumlah kabupaten/kota dengan zona oranye juga bertambah dari 169 menjadi 185.

Sebelumnya, jumlah zona merah di Indonesia sudah pernah mencapai 53 wilayah, tepatnya berdasarkan laporan 28 Juni 2020. Setelah sempat turun di angka 35 wilayah, kini kembali menyentuh angka yang sama. Dari total 53 zona merah itu, ada 14 kabupaten/kota yang masuk zona merah tanpa perubahan tiga pekan berturut-turut.

Pada akhir pekan lalu atau tepatnya pada Jumat (31/7), jumlah kasus positif Covid-19 di Sumatera Barat (Sumbar) kembali mengalami lonjakan. Ada 41 orang warga Sumbar dinyatakan positif Covid-19.

Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman dan Kota Sawahlunto yang sebelumnya berstatus zona hijau, kembali ke zona kuning. Ketiga daerah itu yang sempat membuka sekolah dengan sistem tatap muka sejak 13 Juli, akhirnya kembali lagi ke sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Daerah lain yang juga mengalami peningkatan jumlah persebaran Covid-19 adalah Kota Bogor, Jawa Barat. Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto melihat kondisi itu begitu mengawatirkan. Sebaliknya, Bima menilai, kekhawatiran masyarakat terhadap Covid-19 kian menurun.

"Saya membaca satu situasi yang sangat mengkhawatirkan, Covid-nya naik tetapi kekhawatiranya menurun, disiplinnya menurun, ini yang sangat berbahaya," kata Bima di Kota Bogor, Senin (3/8).

Bima menjelaskan, penambahan infeksi terus meningkat menuju puncak Covid-19 sesuai prediksi. Meskipun demikian, Bima mengaku, tak sependapat dengan penilaian bahawa Indonesia telah menghadapai gelombang kedua infeksi persebaran Covid-19.

"Gelombang pertama saja belum tuntas. Gelombang dua itu kalau sudah mentok kemudian flat-nya menurun," jelasnya.

Jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Bogor mencapai 293 orang pada Senin (2/8). Sebanyak 190 pasein telah dinyatakan sembuh, 82 orang masih dalam perawatan, dan 21 orang dinyatakan meninggal dunia.

Bima menguraikan, Kota Bogor sedang menghadapi sejumlah klaster persebaran Covid-19. Yakni, klaster keluarga, klaster luar kota, klaster fasilitas kesehatan, hingga klaster perkantoran.

Bima menduga, kenaikan kasus dan banyakannya klaster persebaran di Kota Bogor diakibatkan kurang pedulinya masyarakat terhadap bahaya Covid-19. Oleh karena itu, Bima menyebut, akan kembali menggencarkan tes swab secara massal.

"Tidak mungkin klaster keluarga melonjak kalau semua yang merasa berisiko berhati-hati," jelasnya.

Ke depan, Bima menegaskan akan kembali meningkat kewaspadaan terhadap bahaya Covid-19 dengan memperketat protokol kesehatan. Bahkan, Bima meminta, kegiatan tatap muka organisasi perangkat daerah (OPD) kembali dikurangi dan dilakukan secara daring.

"Situasi ini masih gawat, lebih baik dibilang lebay, dari pada kemudian kita kalah. Betul orang bilang lebay, berlebihan lebih baik dicap begitu dari pada kalah dan korban berjatuhan," tegas Bima.

Sebagai contoh masih banyaknya masyarakat yang abai akan ancaman penularan Covid-19 seperti disebutkan oleh Polrestabes Bandung yang mengakui masih terdapat masyarakat yang berkerumun di titik-titik jalan di Kota Bandung pada akhir pekan di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Aparat polisi pun terpaksa membubarkan kerumunan.

"Malam hari (kami) membubarkan yang berkerumun, tambah banyak dan dari luar kota Bandung seperti Sabtu-Minggu kemarin," ujar Kapolrestabes Bandung, Komisaris Besar Polisi Ulung Sampurna Jaya di Balai Kota Bandung, Senin (3/8).

Menurutnya, sebenarnya banyak masyarakat sudah disiplin dalam memakai masker. Namun, masih terdapat masyarakat yang sengaja berkumpul akibat kejenuhan di masa pandemi covid-19.

"Disiplin memakai masker sudah bagus cuma masyarakat tidak sesuai misal berkumpul karena jenuh. Imbauan tinggal di rumah sudah diabaikan, di persimpangan toko dan tempat hiburan dipenuhi masyarakat," katanya.

Terkait sanksi denda bagi masyarakat yang tidak bermasker, Ulung mengatakan pihaknya masih melakukan imbauan agar masyarakat memakai masker. Pihaknya masih akan melakukan pendekatan persuasif terhadap masyarakat.

"Saat ini belum dilaksanakan (sanksi denda), masih imbauan memakai masker. Dalam perjalanan masyarakat tidak memakai masker kita suruh kembali. Kita masih menunggu Gugus Tugas menunggu penerapan denda," katanya.

Namun, berbeda dengan opini Bima Arya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai, kekhawatiran masyarakat terhadap pandemi Covid-19 meningkat dalam beberapa minggu terakhir ini. Hal ini disampaikan Jokowi saat membuka rapat terbatas penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8).

"Saya tidak tahu sebabnya apa, tetapi suasana pada minggu-minggu terakhir ini kelihatan masyarakat berada pada posisi yang khawatir mengenai Covid. Entah karena kasusnya meningkat, atau terutama (kalangan) menengah atas melihat karena orang yang tidak taat pada protokol kesehatan tidak semakin sedikit, tetapi semakin banyak," ujar dia.

Jokowi ingin Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 fokus pada kampanye disiplin protokol kesehatan. Kampanye protokol kesehatan ini harus dijelaskan secara detail kepada masyarakat sehingga benar-benar dipahami.

Selain itu, Jokowi juga ingin melibatkan peran Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di tiap daerah.


"Tapi kalau ibu-ibu siap, saya kira PKK ini juga efektif untuk door to door urusan masker. Urusan perubahan perilaku betul-betul harus kita lakukan dengan komunikasi mungkin di TV, medsos, dll, secara masif mungkin dalam dua minggu ini. Dengan cara-cara yang berbeda," ucap Jokowi.

Perbandingan Harga Vaksin Covid-19 - (Reuters)
Berita Terkait
  • Kasus Infeksi Covid-19 di Amerika Latin Tembus 4,2 Juta
  • Pemkot Surabaya Libatkan Mahasiswa Kedokteran Tangani Covid
  • Penutupan Gedung DPRD DKI Diperpanjang
Berita Lainnya
  • Covid Mengganas, Masyarakat Sebenarnya Khawatir atau tidak?
  • In Picture: Pemeriksaan Bupati Kutai Timur Nonaktif

Covid Mengganas, Masyarakat Sebenarnya Khawatir atau tidak?

Covid Mengganas, Masyarakat Sebenarnya Khawatir atau tidak?

Covid Mengganas, Masyarakat Sebenarnya Khawatir atau tidak?

Covid Mengganas, Masyarakat Sebenarnya Khawatir atau tidak?

Covid Mengganas, Masyarakat Sebenarnya Khawatir atau tidak?

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya