0
Thumbs Up
Thumbs Down

Fenomena BTS Meal, Ini Tanggapan Psikolog

Republika Online
Republika Online - Wed, 09 Jun 2021 23:24
Dilihat: 44
Fenomena BTS Meal, Ini Tanggapan Psikolog

JAKARTA -- Pada Rabu (9/6) gerai makanan cepat saji Mcdonald's meluncurkan BTS Meal. Akibatnya, gerai McD diserbu oleh para ojek online dan para penggemar grup K-Pop, BTS. Psikolog Binus Unversity, Muhamad Nanang Suprayogi, Ph.D menanggapi fenomena BTS Meal yang menyebabkan banyak kerumunan sehingga pihak berwenang harus turun tangan menutup beberapa gerai.

Nanang mengatakan, fenomena ini terjadi akibat seseorang tengah mengidolakan orang lain yang dipengaruhi oleh media sosial (medsos). Sebelum ada medsos, tokoh idola biasanya ditanamkan melalui pendidikan, bisa dari sekolah atau orang tua. Ini tentu berbeda situasinya sekarang ketika medsos memengaruhi banyak kalangan.

"Kalau dalam istilahnya disebut konformitas, ikut-ikutan. Ingin sama dengan yang lain. Misalnya, dia dapat aku juga harus dapat. Jadi, ada pengakuan aku penggemarnya kalau aku bisa mendapatkan suatu barang," kata Nanang kepada Republika.co.id, Rabu (9/6).

Jika dilihat dari psikologi perkembangan, rata-rata fans K-pop adalah remaja awal dan remaja akhir. Saat remaja, fase peer group sangat kuat dan saling memengaruhi. Ini yang selaras dengan konformitas. Ada perasaan ingin sama dan tidak ingin berbeda dengan yang lain.

"Pada masa remaja, peer groupnya kuat maka pengaruh teman sebaya dominan. Ketika satu anggota grup sangat memengaruhi maka yang lain akan terbawa," ujar dia.

Selain remaja, fans K-Pop juga ada dari kalangan orang dewasa. Nanang menjelaskan, paparan-paparan medsos jika tidak dicermati dan dikendalikan maka secara tidak sadar akan sangat berpengaruh pada diri seseorang.

Orang tersebut ingin adanya eksistensi dan pengakuan. Harusnya saat orang sudah memasuki umur dewasa, mereka bisa mengambil keputusan bijak dan tidak mudah diarahkan karena sudah mempunyai pendirian.

Selain medsos, faktor lain seperti ekonomi juga bisa terjadi di kalangan orang dewasa. "Sekarang banyak orang yang ingin mendapat keuntungan dari jumlah likes, views. Mereka bukan ngefans, tapi ingin dapat views banyak. Itu juga bisa," ucap dia.

Kecanduan ini kata Nanang akan berbahaya jika tidak bisa dikendalikan oleh diri sendiri. Misal, bisa merugikan orang lain. Lebih lanjut, Nanang menekankan mengidolakan seseorang tidak masalah jika bisa disikapi dengan tepat. "Yang berbahaya ini adalah teknologi medsos. Karena itu, idola harus disikapi dengan bijak. Contohnya bisa menjadi motivasi atau semangat belajar. Tapi kalau kita tidak mampu memilah mana yang baik dan buruk, justru kita malah dikendalikan yang akhirnya kita tidak mempunyai jati diri," ucap dia.


Berita Terkait
  • Buntut Promo BTS Meal, 6 Gerai McD di Jaktim Disegel
  • Satpol PP Bandar Lampung Bubarkan Kerumunan Pembeli BTS Meal
  • Promo BTS Meal Sebabkan Kerumunan McD Cibubur dan Pulogadung
Berita Lainnya
  • Aktivis HAM Gugat Presiden Nigeria karena Blokir Twitter
  • DIY Sebut Sudah Siap Terapkan Program Work From Jogja

Fenomena BTS Meal, Ini Tanggapan Psikolog

Fenomena BTS Meal, Ini Tanggapan Psikolog

Fenomena BTS Meal, Ini Tanggapan Psikolog

Fenomena BTS Meal, Ini Tanggapan Psikolog

Fenomena BTS Meal, Ini Tanggapan Psikolog

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya