0
Thumbs Up
Thumbs Down

Gizi Buruk dan Stunting Masih Jadi PR Berat Indonesia

Republika Online
Republika Online - Tue, 21 Jan 2020 22:25
Dilihat: 30
Gizi Buruk dan Stunting Masih Jadi PR Berat Indonesia

JAKARTA -- Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Ali Khomsan menilai pemerintah perlu segera menuntaskan berbagai persoalan gizi buruk dan stunting atau kekerdilan di Tanah Air. Kawasan timur Indonesia perlu mendapat perhatian lebih.

"Kalau dilihat memang provinsi di wilayah timur Indonesia itu pekerjaan rumahnya lebih berat," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Ali mengatakan, saat ini masih banyak provinsi yang angka stunting-nya di atas rata-rata nasional, bahkan di atas 40 persen. Hal itu bisa saja disebabkan oleh ketimpangan kesejahteraan atau akses layanan kesehatan yang masih kurang.

Berbagai aspek itu harus segera diselesaikan pemerintah agar sumber daya manusia Indonesia lebih baik lagi. Sementara itu, di wilayah barat yang relatif agak kurang adalah daerah istimewa Aceh.

"Itu angkanya masih kurang menggembirakan," kata Guru Besar bidang Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB tersebut.

Ali mengungkapkan, untuk Pulau Jawa, angka gizi buruk dan stunting relatif jauh lebih baik dari daerah-daerah lainnya. Secara umum, ia mengatakan problem stunting masih dihadapi sepertiga dari anak-anak balita di Indonesia.

Gizi kurang atau gizi buruk, menurut Ali, berkisar antara 15 sampai 20 pesen. Ia mengatakan, ditambah angka stunting Indonesia masih 30,8 persen, tentunya butuh kerja keras untuk menanganinya.

Dunia internasional melalui World Health Organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia telah menetapkan batasan maksimal angka stunting, yaitu 20 persen. Di lain sisi, Indonesia sudah menyentuh angka 30 persen.

Belum lagi angka anemia pada ibu hamil di Indonesia masih di atas 40 persen dan termasuk kategori tinggi. Ali berharap berbagai program yang telah dilakukan oleh pemerintah mampu menurunkan angka stunting tadi menjadi 19 persen pada 2023 dan 2024.


"Semua persoalan itu harus segera diselesaikan karena anemia dan stunting kaitannya dengan sumber daya manusia kita," ujar dia.

Berita Terkait
  • Remaja Putri Banyak yang Melewatkan Tablet Tambah Darah
  • Generasi Milenial Harus Bebas dari Anemia, Mengapa?
  • Kemenkominfo Tekankan Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan
Berita Lainnya
  • Mantan Pejabat OMA Ditunjuk Duterte untuk Otonomi Bangsamoro
  • Gunungkidul Vaksin 11.616 Hewan Ternak

Gizi Buruk dan Stunting Masih Jadi PR Berat Indonesia

Gizi Buruk dan Stunting Masih Jadi PR Berat Indonesia

Gizi Buruk dan Stunting Masih Jadi PR Berat Indonesia

Gizi Buruk dan Stunting Masih Jadi PR Berat Indonesia

Gizi Buruk dan Stunting Masih Jadi PR Berat Indonesia

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya