0
Thumbs Up
Thumbs Down

Harga Tomat Anjlok

Nusabali
Nusabali - Tue, 15 Sep 2020 15:41
Dilihat: 36
Harga Tomat AnjlokDENPASAR,
Pariwisata Bali yang kolaps karena pandemi Covid-19 berakibat anjloknya produk-produk hortikultura. Salah satu yang terasa ancur-ancuran adalah komoditas tomat. I Putu Kerta, seorang petani tomat dari Songan, Kintamani, mengatakan harga tomat di tingkat petani saat ini antara Rp 1.500 - Rp 2.000 per kilogram. Dengan harga tersebut, petani baru bisa impas saja. Petani baru akan untung kalau harganya antara Rp 2.500 - Rp 3.000 per kilogram."Harga tomat cepat naik turunnya," ujar Kerta, Senin (14/9).

Sebenarnya masa panen tomat bisa mencapai sampai 13- 14 kali. Sebaliknya jika cuaca buruk atau musim hujan, tanaman tomat rusak. Karenanya tomat bisa langka. Akibat kelangkaan tersebut, harga tomat di tingkat petani Rp 8.000 per kilogram."Kalau sampai tinggi begitu harganya berarti tomat sudah langka. Tak bagus juga," ujarnya.

Kalangan pebisnis hortikultura juga mengakui harga tomat yang sangat fluktuatif. Komang Sukarsana, pebisnis hortikultura yang juga asal Kintamani mengatakan secara budidaya harga tersebut relatif rendah dan tidak menguntungkan. Biaya produksi mencukupi, namun biaya untuk upah petik belum tertutupi. Untuk diketahui ongkos buruh petik per hari antara Rp 110 ribu hingga Rp 125 ribu. "Karena itulah idealnya saat harga tomat di tingkat petani untuk saat ini antara Rp 2.500 - Rp 3.000 per kilogram," kata Sukarsana.

Sukarsana juga menyatakan, jika harga tomat sudah demikian rendah seperti masuk akal, petani memilih untuk membiarkan tak memetik sehingga busuk sendiri. "Sudah biasa begitu. Kalau Rp 500 per kilogram misalnya, pasti dibiarkan," kata Sukarsana.

Selain serapan yang merosot karena pariwisata bangkrut, anjloknya harga tomat karena kelebihan produksi. Akibat pariwisata tutup banyak pekerja dirumahkan atau di-PHK. Tidak sedikit di antaranya mereka menggeluti pertanian, khususnya bertani hortikultura.

Terpisah Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Nyoman Suarta menyatakan pemerintah sudah memahami soal fluktuasi harga karena plus minus produksi. Karena itulah Pemerintah, dalam hal ini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan membuat program dan langkah-langkah pengolahan di saat produksi berlebih. "Kita ada food lose and wise," ucapnya.

Program tersebut tidak saja untuk produk hortikultura saja, tetapi juga program pertanian secara keseluruhan. Antara lain bagaimana mensiasati ancaman kekurangan beras pada masa depan. Makanya digalakkan pemanfaatan bahan lain seperti singkong umbi-umbian lain sebagai bahan pangan alternatif. Khusus untuk tomat, lanjut Suarsa bisa diolah menjadi saos, hingga camilan lainnya. Selain itu, penyelenggaran Pasar Gotong Royong oleh Pemprov Bali juga bertujuan memperluas pemasaran produk lokal Bali. Salah satunya pemasaran produk pertanian dan horti. "Ini cukup membantu pemasaran," ujar Suarta. *k17
Sumber: Nusabali

Harga Tomat Anjlok

Harga Tomat Anjlok

Harga Tomat Anjlok

Harga Tomat Anjlok

Harga Tomat Anjlok

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya