0
Thumbs Up
Thumbs Down

Kearifan Lokal Bali dan Tantangannya Kini

Nusabali
Nusabali - Fri, 23 Oct 2020 08:20
Dilihat: 29
Kearifan Lokal Bali dan Tantangannya Kini
Kearifan lokal di Bali tidak hanya dimulai saat zaman kerajaan Bali Kuno, tetapi bahkan dari zaman prasejarah.

Itulah yang terungkap dalam sarasehan 'Nilai-nilai Kearifan Lokal Bali Dalam Diorama Monumen Perjuangan Rakyat Bali' yang digelar monument setempat, Kamis (22/10).

Pada sarasehan hari pertama, kearifan lokal Bali dibahas pada dua zaman. Narasumber Prof Dr I Wayan Ardika MA menjelaskan 'Kearifan Lokal Bali pada Zaman Prasejarah', sedangkan narasumber Prof Dr I Gde Parimartha membawa topik tentang 'Kearifan Lokal Bali pada Zaman Pemerintahan Bali Kuno'. Sedangkan sarasehan hari kedua akan membahas tentang 'Kearifan Lokal Bali pada Zaman Logam' oleh Drs Ida Bagus Sidemen SU, dan 'Kearifan Lokal Bali pada Zaman Melawan Penjajahan'.

Pada masa prasejarah, Prof Ardika menjelaskan berbagai kearifan lokal Bali bisa dilihat dari sistem penguburan dan pemanfaatan seperti nekara, sarkopagus, tempayan dan tanpa wadah juga menunjukkan kearifan lokal.

"Wadah kubur dari batu yang lazim dikenal dengan sarkopagus juga menunjukkan bentuk dan hiasan yang beragam, seperti bentuk pola hias melawak atau bondres dianggap memiliki kekuatan magis untuk menjaga roh dan mengantarkan ke alam baka. Keragaman ini dapat dikatakan perkembangan lokal atau kearifan lokal," ujarnya.

Sementara itu, sistem penguburan mencerminkan kegotongroyongan dan toleransi yang sudah tumbuh pada masa prasejarah. Pembuatan wadah kubur dan upacara penguburan tidak dapat dilakukan keluarga sendiri, namun melibatkan orang lain, kerabat dan masyarakat secara umum.

"Termasuk juga sejumlah punden berundak juga ditemukan di Bali sebagai simbol gunung dan tempat bersemayamnya roh leluhur. Berbagai kearifan lokal ini masih berlaku hingga saat ini," jelas guru besar arkeologi Universitas Udayana tersebut.

Sedangkan narasumber lainnya, Prof Dr I Gde Parimartha mengulas tentang kearifan lokal Bali pada zaman kerajaan Bali Kuno. Pada zaman kerajaan Bali Kuno, kearifan lokal yang tumbuh dan melekat adalah konsep seperti Bhinneka Tunggal Ika, Catur Warna, Desa Kala Patra, Trikaya Parisudha, Tri Samaya, dan sebagainya.

"Semua itu menjadi pegangan hidup masyarakat Bali di masa Bali Kuna dan sangat dimengerti sampai sekarang. Akan tetapi, berbagai gerakan dan nilai-nilai baru yang berkembang cukup mempengaruhi, sehingga terjadi perubahan di sana sini," ungkapnya.

Menurutnya, peranan desa adat dan tokoh-tokoh masyarakat sangat penting dalam memandu nilai-nilai kearifan lokal di Bali agar tetap hidup dan lestari. Sebab saat terjadi perubahan, seringkali tampak masyarakat lebih bersifat pasif dan membiarkan perubahan nilai terjadi tanpa berusaha mengatasinya. *ind
Sumber: Nusabali

Kearifan Lokal Bali dan Tantangannya Kini

Kearifan Lokal Bali dan Tantangannya Kini

Kearifan Lokal Bali dan Tantangannya Kini

Kearifan Lokal Bali dan Tantangannya Kini

Kearifan Lokal Bali dan Tantangannya Kini

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
harian pijar
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya