0
Thumbs Up
Thumbs Down

Kesehatan Mental dan Tragedi Bunuh Diri

Republika Online
Republika Online - Thu, 09 Dec 2021 00:05
Dilihat: 66
Kesehatan Mental dan Tragedi Bunuh Diri

Pada Kamis (2/12) lalu, kita digegerkan dengan peristiwa salah satu mahasiswi Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, berinisial NW (23 tahun) yang ditemukan meninggal di dekat pusara ayahanda di kawasan Desa Japan, Kabupaten Mojokerto. Penyelidikan polisi mengarah pada dugaan bunuh diri setelah sang ibu menemukan cairan berjenis potasium sianida yang diduga sebagai racun penyebab kematian korban.

Kejadian yang menimpa perempuan mahasiswa itu seketika menyita perhatian publik. Sebab, muncul keterkaitan sang kekasih berinisial Bripda RB yang kini berstatus tersangka atas tuduhan memaksa aborsi hingga pemerkosaan terhadap korban.

Terlepas dari persoalan hukum yang sedang bergulir di kepolisian, kasus itu dinilai berkaitan erat dengan kemampuan mental seseorang dalam menghadapi hubungan personal yang tidak sehat.

Psikolog Tika Bisono mengatakan, rasa bersalah dari kejadian hamil di luar nikah serta sikap pasangan yang cenderung acuh berpengaruh pada tekanan batin. Bahkan, kehilangan akal sehat.

"Dalam konflik batin yang tinggi itu bisa menuju ke situasi histeris. Dia tidak memiliki kedewasaan menghadapi itu dengan sikap tenang dan berpikir matang," katanya.

Di Indonesia, katanya, peristiwa hamil di luar nikah serta praktik aborsi pada anak di bawah umur, cukup banyak jumlahnya. Selain pengaruh budaya barat, hubungan intim pranikah saat ini masih diatur oleh norma agama.

"Saya selalu katakan, merusak vagina dari perempuan yang masih perawan belum nikah itu adalah kejahatan. Hubungan seks pranikah di Indonesia sudah berkembang sebagai sesuatu yang dianggap biasa pada hubungan pacaran," kata Tika Bison, Putri Remaja Indonesia 1978 dan juga penyanyi di era 1980-an itu.

Pada ranah hukum, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Jakarta itu, menilai, kematian NW bukan perkara gampang untuk menentukan status pelaku berdasarkan pasal yang berlaku. Alasannya, pilihan untuk bunuh diri datang dari inisiatif individu.

Ada banyak hal yang bisa mempengaruhi psikologi korban. Salah satunya respons keluarga yang menganggap hamil di luar nikah sebagai aib.

Situasi itu berpotensi menambah beban psikologi korban. "Pilihan bunuh diri itu adalah murni keputusan dari korban, tersangka pasti enggak nyangka pacarnya itu memutuskan bunuh diri. Itu tidak bisa membuat dirinya sebagai pembunuh, di sinilah dibutuhkan psikolog," katanya.

Bunuh diri (ilustrasi) - (wonderslist.com)

Berita Terkait
  • Mengapa Ada Orang yang Terobsesi Melacak-Menunggu Paket?
  • Islamofobia dan Dampaknya pada Kesehatan Mental Muslim
  • Psikiater Ulas Lirik Lagu 'Forever Winter' Taylor Swift
Berita Lainnya
  • Kesehatan Mental dan Tragedi Bunuh Diri
  • Suntikan Booster Covid-19 Picu Rasa Haus, Ini Penjelasannya

Kesehatan Mental dan Tragedi Bunuh Diri

Kesehatan Mental dan Tragedi Bunuh Diri

Kesehatan Mental dan Tragedi Bunuh Diri

Kesehatan Mental dan Tragedi Bunuh Diri

Kesehatan Mental dan Tragedi Bunuh Diri

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya