0
Thumbs Up
Thumbs Down

Kisah Dokter Iwan, Kendarai Sepeda Motor dari Porbolinggo untuk Bantu Korban Semeru

covesia
covesia - Thu, 09 Dec 2021 10:48
Dilihat: 54
Kisah Dokter Iwan, Kendarai Sepeda Motor dari Porbolinggo untuk Bantu Korban SemeruCovesia.com - Gunung Semeru menyemburkan awan panasnya pada Sabtu, (4/12/2021) sekitar pukul 15.00 WIB. Banyak warga yang menjadi korban, desa yang tertimbun dan puluhan nyawa yang melayang.

Namun, selalu ada rencana baik dari tuhan untuk mereka. Salah satunya dengan andil relawan meringankan beban para korban. Salah satu relawan tersebut adalah Iwan Mariono, seorang dokter muda yang praktek di Rumah Sakit Umum Daerah Sukoharjo. Dia berangkat sendirian ke lokasi bencana menggunakan sepeda motor.
"Saya praktek di RSUD Sukoharjo, datang ke lokasi bencana karena inisiatif sendiri, naik motor dari minggu pagi sampai di lokasi senin siang, sempat istirahat di Ponorogo, baru blusukan pakai motor di lokasi bencana," ungkapnya saat dihubungi, Rabu (8/12/2021).
Iwan Mariono mengaku sampai di Lumajang setelah tujuh jam perjalanan dari Ponorogo.
"Alhamdulillah, tiba dengan selamat. Langsung disambut dengan pemandangan yang baru saya liat, satu kampung hilang tertimbun abu vulkanik. Alat berat tidak bisa melakukan evakuasi. Saya belum sempat mencari info berapa KK yang tertimbun, berapa korban jiwa yang telah ditemukan,"tulisnya, Senin (6/12/2021).
Tiba di lokasi dokter muda tersebut mencari lokasi pengungsi, juga mencari warga yang memilih bertahan di rumah masing-masing. Dia juga mencari tahu apa yang dibutuhkan korban yang belum tersedia. Kemudian berkoordinasi dengan beberapa lembaga.
Iwan mengaku bahwa ada kelebihan berangkat dengan motor, dirinya bisa menjangkau daerah yang sulit diakses kendaraan roda empat.
"Saya berharap bisa menemukan jalur alternatif menuju kota Lumajang, karena jembatan di jalur utama saat ini terputus," jelasnya.
Di hari berikutnya, usai menyurvei lokasi, Iwan memutuskan untuk ke Malang kota yang jaraknya lumayan jauh, 2.5 jam perjalanan di malam hari menempuh sekitar 80 kilometer dari pusat bencana.
"Ada dua tujuan saya ke Malang, mencari logistik yang dibutuhkan pengungsi dan menjemput rekan sejawat sy dr. Rosyid (adik angkatan di FK UMS) yang menyusul mbolang dari Solo," tulisnya.
Iwan mengatakan ada 8.9 juta donasi yang terhimpun. Sebenarnya masih mau nambah, tapi akhirnya dicukupkan karena motornya sudah over kapasitas sampai dia harus beli tas keranjang untuk menampung yang dibeli.
Dalam keterangannya dokter Iwan mengaku mendapat donasi mulai dari dokter pembimbingnya waktu koass dulu, teman-teman alumni, sahabat relawan, sampai orang-orang yang belum pernah bertatap muka, hanya dikenal melalui Facebook.
"Saya tidak menyangka akan sebanyak itu, apalagi saya tidak membuat pengumuman terbuka untuk galang donasi. Di antara donasi itu, saya cukup terharu saat ada yang transfer Rp 100 dengan pesan, "Ini buat sampeyan ya, bukan buat korban. Sampeyan butuh bensin atau butuh makan juga kan?" huhu. Selama ini memang uang donasi itu ya saya peruntukan untuk donasi, biaya akomodasi menjadi tanggungan saya pribadi," imbuhnya.
Kemudian Dokter Iwan juga mengatakan ada donatur yang ingin menyumbangkan uangnya senilai Rp 850 ribu dalam bentuk amplop (dibagi menjadi beberapa amplop). Satu kemudahan buat saya karena praktis tanpa beban tapi menjadi satu kesulitan harus menentukan siapa yang berhak menerima.
Iwan merincikan uang donasi yang didapatkan dibelanjakan untuk membeli Minyak kayu putih, Minyak telon, Susu UHT, Madu sachet, Pembalut, Popok bayi, Susu formula, Antangin, dan Lotion anti nyamuk.
"Itu saya urut berdasarkan yang paling banyak saya belanjakan yang menurut saya sangat dibutuhkan tapi jarang tersedia. Saya tidak belanja sembako atau yang sifatnya makanan karena selain beban berat, logistik semacam itu sudah banyak sekali dari berbagai lembaga, malah beberapa lembaga sampai membuka dapur umum," ujarnya.
Dia berpendapat minyak telon dan kayu putih itu dibeli ratusan botol untuk dibagikan ke tiap kepala, selain untuk mengurangi gatal dan perut kembung, juga untuk menghangatkan badan, apalagi mereka tinggal di lereng gunung ditambah musim hujan. Hal yang dia terapkan waktu Tsunami di Banten bulan Desember tiga tahun silam.
"Butuh waktu 4 jam untuk belanja sebanyak itu. Setelahnya saya kembali ke tempat pengungsian. Saya bagikan ke warga yang tinggal di pengungsian, saya masuk masuk sampai pemukiman paling ujung di lereng gunung. Kemarin waktu survei saya tidak sempat ke sini, karena hujan saya harus putar balik,"jelasnya.
Hal tak terduga juga ditemukan oleh dokter Iwan adalah ada beberapa warga yg tetap tinggal di rumah. Saat saya tanya kenapa tidak mengungsi, mereka hanya menjawab dengan senyuman.
Bahkan beberapa di antara mereka tetap tinggal di rumah saat hari pertama Gunung Semeru meledak. Mereka yakin kalau lahar panas itu hanya mengalir melalui sungai yang sudah ada jalurnya, yakni Sumbersari (sebelahnya Kamar A), Kampung Renteng, dan Curah Kobokan. Dua nama terakhir itulah tempat banyak korban meninggal tertimbun abu vulkanik.
Sebenarnya ini tempat tidak aman, tapi Iwan tetap memilih ikut tinggal di sana. Secara tak sengaja di lokasi tersebut bertemu dengan keluarga ibunya. Ternyata di dukuh Kamar A inilah ibunya dilahirkan. Bahkan makam nenek ya berada di daerah itu.
Saat ini Iwan berdiam diri di depan lilin di rumah seorang warga yg tidak mengungsi. Sebuah dukuh bernama Kamar A, pemukiman terakhir tepat di bawah kaki Gunung Semeru. Jaraknya sekitar 2.5 km dari jalan utama. Melewati jalanan yang berlumpur dan berbatu.
Semeru dari Dukuh Kamar A, Desa Supiturang, Kec. Pronojiwo, Kab. Lumajang ini belum banyak tersentuh bantuan dari relawan karena akses yang sulit dan jalan berbatu.
"Semoga aman dan tidak terjadi apa-apa malam ini, dan malam-malam seterusnya," harapnya. (ila)
Sumber: covesia

Kisah Dokter Iwan, Kendarai Sepeda Motor dari Porbolinggo untuk Bantu Korban Semeru

Kisah Dokter Iwan, Kendarai Sepeda Motor dari Porbolinggo untuk Bantu Korban Semeru

Kisah Dokter Iwan, Kendarai Sepeda Motor dari Porbolinggo untuk Bantu Korban Semeru

Kisah Dokter Iwan, Kendarai Sepeda Motor dari Porbolinggo untuk Bantu Korban Semeru

Kisah Dokter Iwan, Kendarai Sepeda Motor dari Porbolinggo untuk Bantu Korban Semeru

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya