0
Thumbs Up
Thumbs Down

Komunikasi Militer Abad Pertengahan, Seperti Apa?

Republika Online
Republika Online - Thu, 10 Oct 2019 04:04
Dilihat: 27
Komunikasi Militer Abad Pertengahan, Seperti Apa?

JAKARTA -- Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R. Hill dalam karyanya Islamic Technology: An Illustrated History menjelaskan selama masa awal penaklukan Arab, kurir penunggang onta menjadi perantara komunikasi antara khalifah di Madinah dan komandannya di medan perang.

Setelah itu, perkembangan komunikasi militer semakin pesat. Buktinya saat kepemimpinan khalifah Umayyah (abad 1-2 H/ke-7-8 M), telah dibentuk pelayanan pos reguler yang disebut barid. Mereka mengadopsi sitem yang diterapkan oleh Byzantium dan Sassaniyyah Iran untuk mengelola barid tersebut.

Sejak saat itu barid digunakan sebagai tempat pengiriman semua jenis informasi, sipil dan militer. Barid ini mencapai tingkat efisiensi yang tinggi pada masa khalifah Abbasiyah di Baghdad (abad ke-2 hingga 7 H/ke- 8 M hingga ke-13 M).

Bahkan pada saat itu telah dibentuk departemen pemerintah yang khusus bertanggung jawab atas pelayanan pos. Tempat-tempat perhentian perjalanan pos (markaz) dibangun di se panjang jalan-jalan utama dan jumlahnya tak kurang dari 430 buah di seluruh kerajaan itu, jelas Al-Hassan dan Hill.

Al-Hassan dan Hill memaparkan bahwa di Iran, para kurir perantara komunikasi menunggang bagal, yakni hewan campuran spesies kuda dengan keledai, atau lebih tepat keturunan antara kuda betina dan keledai jantan. Sedangkan di tempat lain menggunakan kuda atau unta.

Komunikasi militer semakin diperlukan, bahkan pada abad ke-3 H (ke- 10 M), Buwayhiyyah melibatkan pelari untuk bekerja sebagai penyampai pesan. Mereka dipercaya untuk menyampaikan pesan yang bersifat rahasia.Sedangkan untuk pesan-pesan penting digunakan merpati pos, jelas Al-Hassan dan Hill.

Efisiensi komunikasi militer lebih terasa saat kekuasaan Raja Mamluk (abad ke 7-13 H/abad ke 13-16 M). Di sana terdapat banyak tempat-tempat perhentian perjalanan pos sepanjang jalan sejak dari Kairo hingga Iskandariah, Damietta dan Mesir Atas. Mereka juga membuka tempat di ruterute lain mulai dari ibukota menuju Damaskus, Aleppo dan Sungai Efrat.

Pada mulanya ketika Mamluk terlibat dalam pertikaian dengan Mongol di perbatasan Utara, terdapat rangkai an menara api yang terpancang dari Sungai Efrat hingga Gaza melalui Palmyra, Damaskus, Baysan dan Nablus, ungkap Al-Hassan dan Hill. Kala itu, lanjut Al-Hassan dan Hill, jika ada bahaya mengancam, api dinyalakan sebagai sinyal secara berurutan dari mercu suar-mercu suar ini. Merpati Pos juga dimanfaatkan secara luas, dan ada pula menaramenara untuk merpati pos (burj) di berbagai tempat di Mesir dan Syria, jelas Al-Hassan dan Hill.


Berita Terkait
  • Mengenal Apoteker Muslim Abad Pertengahan
  • Mengenal al-Muhtasib, Badan Pengawasan Obat di Dunia Islam
  • Warung Pengobatan Pertama di Dunia Islam
Berita Lainnya
  • Daerah Harus Bantu Kota Bandung Uraikan Kemacetan
  • Pengamat Sebut Album Kamila Siap Tembus Pasar Internasional

Komunikasi Militer Abad Pertengahan, Seperti Apa?

Komunikasi Militer Abad Pertengahan, Seperti Apa?

Komunikasi Militer Abad Pertengahan, Seperti Apa?

Komunikasi Militer Abad Pertengahan, Seperti Apa?

Komunikasi Militer Abad Pertengahan, Seperti Apa?

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya