0
Thumbs Up
Thumbs Down

Kontroversi Macron dan Kesamaan Pandangan Warga Prancis

Republika Online
Republika Online - Fri, 30 Oct 2020 00:00
Dilihat: 41
Kontroversi Macron dan Kesamaan Pandangan Warga Prancis

JAKARTA - Polemik Emmanuel Macron dimulai saat dirinya mendapat kecaman dari kaum konservatif Prancis.

Saat itu, dirinya menyarankan bahwa mengajar bahasa Arab di sekolah-sekolah, diklaim dapat membantu memerangi Islam radikal.

Beberapa waktu selanjutnya, Presiden Prancis itu kembali terlibat dalam pertikaian diplomatik dengan negara-negara Muslim, utamanya atas tindakan keras terhadap Islam.

Perdebatan Macron kemudian memuncak, ketika pemenggalan kepala seorang guru yang sempat menyajikan kartun Nabi Muhammad dekat Paris terjadi. Meski demikian, konflik Prancis vs Islam telah menyebar pada situasi yang lebih luas, khususnya ketika produk Prancis diboikot di berbagai negara.

Jika menilik ke belakang, penanggulangan Islam radikal atau yang masyarakat umum kenal dengan 'Islam de Lumires' merupakan kebijakan lama presiden Prancis. Masalah ini kembali mencuat ke publik, setelah serangan teroris di Paris lima tahun lalu, yang menyebabkan 131 orang tewas.

Atas dasar itu, Macron pada pekan lalu menegaskan bahwa pemerintahannya telah meningkatkan tindakan untuk mengatasi serangan terbaru. "Ini bukan tentang membuat pernyataan baru, kami tahu apa yang perlu kami lakukan,'' katanya dalam pidato.

Namun demikian, pidato yang memicu kemarahan Muslim ada di dua pekan lalu sebelum pemenggalan pada guru terjadi. Pada 2 Oktober, Macron menyatakan bahwa pihaknya berencana untuk memerangi separatisme.

Dirinya juga menggambarkan Islam sebagai 'agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia saat ini'. Dua pekan setelahnya, komentar Macron ditanggapi serius oleh guru yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad, sebelum dirinya dipenggal pemuda Muslim asal Chechnya.

Pascapembunuhan itu, otoritas Prancis memang melakukan banyak aksi yang merugikan umat Muslim setempat. Dalam laporan New York Post, pemerintah Prancis bahkan melakukan lusinan penggerebekan terhadap terduga ekstremis Islam, menutup masjid besar dan menutup beberapa kelompok bantuan Muslim.

Lebih jauh, mengutip the week Kamis (29/10) Charlie Hebdo, majalah satir Prancis juga memicu kemarahan Muslim di seluruh dunia. Pasalnya, alasan 10 staf yang terbunuh pada 2012 lalu, digunakannya untuk mencetak ulang gambar Nabi Muhammad.

"Dua kota Prancis, Toulouse dan Montpellier, memproyeksikan karikatur Charlie Hebdo termasuk yang dari nabi Islam di dinding gedung dewan daerah mereka sebagai tanda pembangkangan," tulis The Guardian.

Alhasil, Presiden Turki Erdogan mulai mengkritik secara vokal pada Prancis, Charlie Hebdo hingga Macron. Menurutnya, perlakuan Prancis terhadap Muslim tidak berbeda dari perlakuan genosida terhadap Yahudi Eropa sebelum Perang Dunia Kedua.

Tak hanya Erdogan, dirinya juga menjadi cerminan para pemimpin Islam di seluruh Timur Tengah yang ikut menolak sikap Prancis. Bahkan, surat kabar Iran garis keras, melabeli Macron sebagai 'Demon of Paris'.

Jauh sebelum gelombang penolakan Timur Tengah terhadap Macron, ada respons Prancis terhadap pernyataan Erdogan. Khususnya, ketika Prancis menarik duta besarnya dari Turki dan mengeluarkan "peringatan keamanan untuk warga Prancis di negara bagian mayoritas Muslim", kata The Guardian.

Bukannya menyatakan perdamaian, Prancis hingga kini bahkan diketahui bertekad untuk mempertahankan tradisi lacit, atau sekularisme dan tetap mengkritik semua agama. Padahal, tradisi kartun politiknya terhadap larangan Islam, sempat memicu pembunuhan pada 10 staf Charlie Hebdo, termasuk pemenggalan guru, Samuel Paty.

"Kami adalah hasil dari sejarah kami: nilai-nilai kebebasan, sekularisme, dan demokrasi ini tidak bisa hanya berupa kata-kata," kata seorang demonstran di Paris saat demonstrasi menghormati Paty.

Sumberhttps://www.theweek.co.uk/108518/why-everybodys-talking-about-emmanuel-macron-clash-with-muslim-world


Berita Terkait
  • DDII Sikapi Prancis: Gencarkan Protes Lewat Media Sosial
  • Houthi Yaman Peringatkan Macron Jangan Hina Islam
  • PBB Sebut Menghina Nabi tak Dibenarkan, Ini Alasannya
Berita Lainnya
  • Kontroversi Macron dan Kesamaan Pandangan Warga Prancis
  • PLN Pastikan Seluruh Wilayah Sukabumi Teraliri Listrik

Kontroversi Macron dan Kesamaan Pandangan Warga Prancis

Kontroversi Macron dan Kesamaan Pandangan Warga Prancis

Kontroversi Macron dan Kesamaan Pandangan Warga Prancis

Kontroversi Macron dan Kesamaan Pandangan Warga Prancis

Kontroversi Macron dan Kesamaan Pandangan Warga Prancis

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
harian pijar
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya