0
Thumbs Up
Thumbs Down

'Laki-Perempuan Punya Hak Sama untuk Bekerja'

Republika Online
Republika Online - Tue, 24 Nov 2020 21:03
Dilihat: 45
'Laki-Perempuan Punya Hak Sama untuk Bekerja'

JAKARTA -- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga mengatakan Undang-Undang Dasar 1945 menjamin hak yang sama antara laki-laki dan perempuan untuk bekerja. Namun, data menunjukkan masih ada ketimpangan.

"Pasal 27 Ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 menjamin setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Artinya, memiliki pekerjaan yang layak adalah hak asasi manusia," kata Bintang dalam seminar daring bertema "Perempuan Bekerja Tidak Perlu Dilematis" yang diadakan untuk menyambut Hari Ibu yang diliput dari Jakarta, Selasa (24/11).

Bintang mengatakan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di Indonesia hampir setara. Karena itu, sangat disayangkan bila akses untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan menerima manfaat bagi keduanya di berbagai bidang sangat berbeda, termasuk di bidang ekonomi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mengukur kualitas hidup manusia dari aspek kesehatan, pendidikan, dan ekonomi terdapat ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. IPM laki-laki 75,43; sedangkan IPM perempuan 68,43.

Di bidang ekonomi, salah satu ketimpangan terlihat pada pengeluaran per kapita yang disesuaikan, yaitu Rp15,22 juta untuk laki-laki dan Rp9,04 juta untuk perempuan.

"Perempuan adalah kelompok rentan, tetapi kerentanan itu bukan karena dirinya lemah. Kerentanan itu karena konstruksi sosial yang berkembang di Indonesia sangat kental dengan budaya patriarki," tuturnya.

Menurut Bintang, budaya patriarki menyebabkan berbagai kebiasaan, pola perilaku, kebijakan, dan cara pandang menjadi tidak adil atau bias gender yang merugikan perempuan. Bias gender tersebut membawa perempuan pada berbagai permasalahan, seperti stigmatisasi, stereotipe, bahkan kekerasan terhadap perempuan.

Sebagai kelompok rentan, Bintang mengatakan perempuan memiliki kebutuhan-kebutuhan khusus yang bersifat fisiologis, seperti dapat datang bulan, hamil dan menyusui. Karena itu, perlu strategi khusus dan spesifik untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

"Kebutuhan khusus dan spesifik tersebut tidak menjadi alasan bagi siapapun untuk mengesampingkan pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan, atau bahkan memandang perempuan sebagai beban," katanya.


Berita Terkait
  • Menaker Ajak Pelaku Industri Adil pada Pekerja Perempuan
  • Bangun Desa, Kemendes PDTT Perbanyak Peran Perempuan
  • Merkel Sebut Agama dan Perempuan Berperan dalam Perdamaian
Berita Lainnya
  • Filipina akan Suntik Vaksin Covid-19 ke 60 Juta Orang
  • Hibib Rizieq Pulang, 4 Fraksi Tolak RUU HIP Masuk Prolegnas

'Laki-Perempuan Punya Hak Sama untuk Bekerja'

'Laki-Perempuan Punya Hak Sama untuk Bekerja'

'Laki-Perempuan Punya Hak Sama untuk Bekerja'

'Laki-Perempuan Punya Hak Sama untuk Bekerja'

'Laki-Perempuan Punya Hak Sama untuk Bekerja'

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya