0
Thumbs Up
Thumbs Down

Masjid Agung Sunda Kelapa dan Bayang-Bayang Trauma G30SPKI

okezone
okezone - Tue, 11 Jun 2019 18:02
Dilihat: 28

PERISTIWA Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30SPKI) pada 1965 memunculkan trauma sendiri untuk warga Menteng, Jakarta Pusat. Di tahun itu, Menteng menjadi salah satu daerah paling berdarah karena menjadi saksi penculikan tujuh jenderal TNI yang pada akhirnya tewas terbunuh.

Trauma tersebut memberikan pemahaman baru untuk warga setempat, bahwa pengalaman pahit itu bisa dihindari jika warganya menyadari pentingnya agama. Masyarakat Menteng, saat itu, kembali merindukan kehidupan yang lebih Islami.

Bayang-bayang trama tersebut diceritakan oleh HM Kasasi, salah seorang pengurus harian Masjid Agung Sunda Kelapa. Kasasi juga jadi saksi bagaimana masjid bergengsi tersebut hadir di tengah masyarakat Jakarta.

Dalam buku Ensiklopedia Jakarta 2, terbitan PT Lentera Abadi, kisah pembangunan Masjid Agung tersebut menemui tak sedikit aral melintang sebelum akhirnya mulai dibangun tanggal 21 Desember 1969. Ditandai dengan seremonial peletakan batu pertama.

Pencetus berdirinya Masjid Agung Sunda Kelapa adalah Alamsyah Ratu Prawiranegara yang pada saat itu masih bertugas di Sekretariat Negara (Setneg). Alamsyah menilai masyarakat Menteng perlu memiliki sebuah masjid besar sebagai simbol kehidupan Jakarta yang lebih Islami.

(Baca Juga: Asal Usul Masjid Luar Batang dan Kisah Habib Husein bin Abubakar Alaydrus)

Tahun 1966, dibentuklah susunan kepanitiaan pembangunan masjid agung yang diketuai HBR Motik. Tak lama setelahnya, rombongan tersebut menemui Gubernur Ali Sadikin untuk meminta izin pembangunan masjid. Panitia juga sebelumnya telah menemui Pangdam V Jaya Jenderal Amir Mahmud dan Jenderal AH Nasution.

Secara lebih spesifik, rombongan panitia tersebut meminta izin kepada Gubernur Ali Sadikin untuk mengalihfungsikan Gedung Bappenas menjadi sebuah Masjid Raya. Namun, saat itu, Pemerintah dengan Kabinet Ampera mengaku masih membutuhkan gedung tersebut, bahkan hingga sekarang.

Sebagai alternatif, panitia pada akhirnya melihat lokasi Stadion Menteng atau Lapangan Sunda Kelapa cocok untuk dibangun sebuah masjid besar. Tak banyak pikir, Gubernur Ali Sadikin langsung menunjuk Lapangan Sunda Kelapa sebagai lokasi pembangunan masjid yang masih tersohor hingga sekarang.

Dalam pembangunannya, panitia merancang Masjid Agung Sunda Kelapa sebagai masjid pertama yang memiliki standar arsitektur berkelas. Masjid ini pun menjadi pionir yang memadukan konsep ibadah dengan perekonomian dan pendidikan, yang pada akhirnya diikuti oleh banyak masjid di Jakarta hingga sekarang.

(Baca Juga: Menguak Sejarah Little India di Sunter Jakarta Utara)


Konsep memadukan tiga kegiatan itu diakomodasi dengan keberadaan lantai yang berbeda. Lantai atas digunakan untuk ibadah dan dakwah. Sedangkan lantai bawah digunakan sebagai aula atau tempat resepsi hajat yang disewakan, perkantoran, ruang rapat, hingga ruang berwudu.

Sumber: okezone

Masjid Agung Sunda Kelapa dan Bayang-Bayang Trauma G30SPKI

Masjid Agung Sunda Kelapa dan Bayang-Bayang Trauma G30SPKI

Masjid Agung Sunda Kelapa dan Bayang-Bayang Trauma G30SPKI

Masjid Agung Sunda Kelapa dan Bayang-Bayang Trauma G30SPKI

Masjid Agung Sunda Kelapa dan Bayang-Bayang Trauma G30SPKI

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
MuterFilm
Rancahpost
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri