0
Thumbs Up
Thumbs Down

Maulid Nabi SAW Momentum Persatuan Umat Islam

Republika Online
Republika Online - Thu, 29 Oct 2020 11:23
Dilihat: 60
Maulid Nabi SAW Momentum Persatuan Umat Islam

Oleh: Mehrdad Rakhshandeh Yazdi (Konselor Kebudayaan Iran di Jakarta)

Dalam rangka peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw atau sering disebut maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, setiap tahunnya di Iran dan sebagian negara Muslim lainnya diperingati Pekan Persatuan atau Usbu' Al-Wahdah mulai 12 hingga 17 Rabiul Awal.

Hari kelahiran Nabi saw menurut keyakinan mayoritas Ahlu Sunnah jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal, sementara menurut mayoritas penganut Syiah jatuh pada tanggal 17 Rabiul Awal.

Perbedaan ini membuat pemimpin besar revolusi Islam Iran, Ayatullah Imam Khomeini menamakan hari-hari tersebut dengan Pekan Persatuan dengan tujuan menghormati kedua mazhab besar Islam tersebut dan menekankan keharusan dan pentingnya persatuan dunia Islam lebih dari sebelumnya.

Islam diturunkan kepada umat manusia sebagai agama Ilahi paling sempurna untuk menyelamatkan manusia itu sendiri dari ketersesatan dan kejahilan melalui perantara Nabi Muhammad saw. Namun karena pencerahan dan penyadaran ini akan dapat menyelamatkan umat manusia dari perbudakan, musuh-musuh agama selalu berusaha untuk melenyapkan beliau. Dengan segala trik dan tipu daya, sejak permulaan kenabian hingga hari ini, mereka ingin menghalangi penyebaran dan perkembangan Islam dengan menciptakan perpecahan di kalangan umat Islam.

Dalam hal ini, usaha terpenting dan terbesar mereka adalah melontarkan pembahasan Sunnah Syiah dan perbedaan di antara dua mazhab Islam ini. Oleh karena itu, keharusan menjaga persatuan dan kesatuan di kalangan kaum Muslimin menjadi sebuah hal yang harus selalu diperhatikan oleh tokoh-tokoh dan para pemimpin mazhab dan agama ini.

Hakikat konsepsi persatuan atau kesatuan adalah memiliki satu sikap dalam menghadapi musuh bersama dan tidak melalaikan keberadaan mereka dengan tetap menjaga keyakinan masing-masing. Menurut Syahid Muthahhari, persatuan dan kesatuan Islam tidak melazimkan lenyapnya jati diri berbagai kelompok dan mazhab.

Dengan kemenangan revolusi Islam di Iran pada tahun 1979, sensitifitas musuh-musuh Islam untuk menciptakan perpecahan dan perselisihan di kalangan umat Islam terasa semakin besar. Oleh karena itu, Ayatullah Imam Khomeini yang mengetahui betul bahwa dua mazhab Ahlu Sunnah dan Syiah memiliki banyak pengikut di seluruh penjuru dunia. Bila keduanya dapat semakin mendekatkan pandangan-pandangan masing-masing, maka akan membawa dampak sangat penting dalam kemuliaan dan kejayaan kaum Muslimin di dunia kini dan melumpuhkan segala konspirasi setiap saat. Imam Khomeini menamakan 12 hingga 17 Rabiul Awal sebagai 'Pekan Persatuan' (Usbu' Al-Wahdah). Beliau membeberkan salah satu langkah terpenting untuk menciptakan persatuan kaum Muslimin.

Pekan Persatuan ini menarik untuk diperhatikan dari 2 sisi: Pertama bahwa penamaannya pada hari-hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Hari-hari ini merupakan hari berbahagia, maka secara psikologis menjadi waktu terbaik untuk membahas tentang persatuan umat Islam.

Ayatollah Khamenei, pemimpin revolusi Islam Iran saat ini sebagai pelanjut Imam Khomeini, berkenaan dengan Pekan Persatuan dan pentingnya persatuan Islam menyebutkan: "Pekan persatuan yang harus dihormati oleh umat Islam harus kita ketahui peran pentingnya. Seluruh kaum Muslimin harus berusaha memaksimalkan persatuan dan kesatuan kekuatan untuk bersama-sama berada dalam satu front menghadapi musuh. Inilah kunci kemenangan umat Islam dan sarana Negara-negara Islam menghadapi arogansi global.

Keharusan memelihara persatuan senantiasa mendapat perhatian yang serius dari tokoh-tokoh dan ulama Republik Islam Iran. Syahid Murtadha Muthahhari dalam signifikansi persatuan umat Islam menulis demikian: "Sungguh indah ucapan Allamah Kasyiful Ghitha' saat menjelaskan bahwa Islam dibangun di atas dua Kalimah Tauhid dan Tauhidul Kalimah.

Perbedaan mazhab tidak dapat menjadikan kaum Muslimin tidak bersatu, tidak mampu menjadi saudara dan perwujudan "Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara." Karena mereka menyembah Tuhan yang satu. Semuanya mengucapkan 'Tiada Tuhan selain Allah'. Mengimani risalah dan kenabian Nabi Muhammad saw serta meyakini agama yang dibawa beliau sebagai agama terakhir penutup seluruh agama. Semuanya meyakini Alquran sebagai kitab suci samawi, membaca dan menganggapnya sebagai pegangan utama umat Islam. Semuanya salat menghadap ke satu arah, yaitu kiblat.

Semuanya menyerukan azan yang sama. Semuanya melakukan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Semuanya meyakini Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari raya. Semuanya sama-sama mengerjakan ibadah haji dan berkumpul di haram Allah. Bahkan semuanya mencintai dan menghormati keluarga Nabi saw. Hal-hal ini cukup membuat hati saling menyatu dan menciptakan rasa persaudaraan Islam.

Tidak diragukan lagi, pekan persatuan dan mengangkat urgensitasnya dapan menjadi langkah penting menuju persatuan kaum Muslimin. Seluruh umat Islam berdasarkan hal-hal yang disepakati harus memelihara persatuan dan kesatuannya. Dengan persatuan dan kesatuan ini, konspirasi musuh dapat digagalkan.

Secara umum, dengan segala jenis pandangan dunia yang menampakkan signifikansi persatuan di kalangan lapisan masyarakat yang berbeda-beda, kita ambil sebuah kesimpulan bahwa selama ada persatuan dan kesatuan di antara berbagai individu, musuh dengan segala sarana dan muslihat tidak akan pernah berhasil mencapai tujuan jahat mereka. Sebaliknya, setiap kali timbul benih kemunafikan dan perpecahan masyarakat, akan terjadi perpecahan pandangan. Di sinilah terbuka celah bagi musuh untuk masuk.

Sangat diharapkan, peringatan pekan persatuan memberikan banyak pelajaran dari madrasah Nabi terakhir untuk umat manusia ini. Milad beliau saw dapat menyinari dunia, merubah kesyirikan dengan tauhid, ketaatan kepada thaghut menjadi ketaatan kepada Allah, kemunafikan menjadi kejujuran, permusuhan antar sesama Muslim menjadi persaudaraan Islamiyah, Arab dan Ajam, kulit putih dan kulit hitam dan seterusnya menjadi saudara seagama dan seiman.

Di pekan persatuan Islam ini, Nabi pembawa risalah dikirim ke muka bumi ini untuk menyempurnakan nikmat Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Beliau saw mengenalkan jalan terang dari jalan kegelapan sehingga umat manusia memilih petunjuk dari kesesatan, cahaya dari kegelapan, dan persatuan dari perpecahan.


Berita Terkait
    Berita Lainnya
    • Phill Collins Kesal Kampanye Trump Pakai In Tthe Air Tonight
    • Syarief Hasan Raih Penghargaan Best Freedom of Speech

    Maulid Nabi SAW Momentum Persatuan Umat Islam

    Maulid Nabi SAW Momentum Persatuan Umat Islam

    Maulid Nabi SAW Momentum Persatuan Umat Islam

    Maulid Nabi SAW Momentum Persatuan Umat Islam

    Maulid Nabi SAW Momentum Persatuan Umat Islam

      
    PARTNER KAMI
    JPNN
    genpi
    Republika Online
    LIPUTAN6
    okezone
    BBC
    bintang
    bola
    Antvklik
    rumah123
    Rumah
    Love Indonesia
    CENTROONE
    wartaekonomi
    Voice of America
    Popular
    Gocekan
    Teqnoforia
    Angelsontrip
    Makanyuks
    telsetNews
    BisnisWisata
    Jakarta Kita
    Indonesia Raya News
    RajaMobil
    Mobil123
    Otospirit
    MakeMac
    Indotelko
    Inditourist
    TEKNOSAINS
    MotorExpertz
    Mobil WOW
    Oto
    Kpop Chart
    salamkorea
    slidegossip
    Hotabis
    INFOJAMBI
    Japanese STATION
    harian pijar
    SeleBuzz
    Cintamobil
    Football5star
    Citra Indonesia
    OTORAI
    Sehatly
    Hetanews
    Inikata
    Nusabali
    Garduoto
    Beritakalimantan
    batampos
    covesia
    carmudi
    idnation
    inipasti
    teknorush
    winnetnews
    mediaapakabar
    carvaganza
    mediakepri
    kabarsurabaya