0
Thumbs Up
Thumbs Down

Menkes Sebut Kebutuhan Obat tak Bisa Dikejar dengan Produksi

Republika Online
Republika Online - Mon, 02 Aug 2021 16:12
Dilihat: 24
Menkes Sebut Kebutuhan Obat tak Bisa Dikejar dengan Produksi

JAKARTA -- Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengakui obat terapi Covid-19 di apotek Tanah Air kini banyak yang kosong. Tingginya permintaan obat tidak bisa diimbangi dengan kecepatan produksi obat perusahaan farmasi di Indonesia.

Budi mengatakan, banyak obat-obatan untuk terapi Covid-19 yang dicari dan dipertanyakan, namun tidak ada karena kosong. "Bahkan presiden Joko Widodo juga menyampaikan kepada kami (mengenai kosongnya obat terapi Covid-19 di apotek)," ujarnya saat konferensi virtual Kemenkes, Senin (2/8).

Untuk mengetahui penyebab masalah ini, kata Budi, Kemenkes sudah berbicara dengan Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi hingga beberapa kali. Dari pertemuan itu, Kemenkes mendapat pengakuan dari GP Farmasi bahwa kebutuhan obat Covid-19 naik luar biasa sejak 1 Juni 2021 lalu.

Padahal, lanjut Budi, GP Farmasi mendapatkan mayoritas bahan baku obat dari impor. Kemudian, GP Farmasi memperkirakan kebutuhan obat naik delapan kali lipat. Begitu bahan baku masuk ke Indonesia dan masih diproses ternyata kebutuhan sudah kembali meningkat delapan kali lipat. Saat proses produksi obat masih belum selesai, ternyata kebutuhan melonjak hingga belasan kali lipat.

"Jadi, kebutuhan obat tidak bisa dikejar dengan kecepatan produksi karena sejak produksi hingga obat dalam bentuk jadi (membutuhkan waktu). Impor bahan baku, proses produksi, kemudian pendistribusian ke seluruh apotek butuh waktu sekitar empat hingga enam pekan," katanya.

Menurut Menkes, permintaan obat tumbuh dengan cepat namun industri farmasi Indonesia belum siap. Terkait impor obat untuk memenuhi kebutuhan, Budi mengaku upaya itu juga butuh waktu. Beruntung, sekarang hasil produksi dalam negeri dari GP Farmasi telah beredar dan beberapa obat Covid-19 dari luar negeri kini masuk.

Budi mengatakan, obat impor yang masuk Indonesia di antaranya seperti Remdesivir, Tocilizumab 400 mg/20 ml hingga Intravenous immunoglobulin 5 persen 50 ml. "Di pekan pertama sudah Agustus mulai banyak (obat Covid-19 impor) yang masuk. Kami terus monitor stok dan kebutuhannya selama Agustus," katanya.


Berita Terkait
  • Menkes: Kurangi Curiga dan Celaan, Ayo Bersama Atasi Pandemi
  • Menkes Optimistis Vaksinasi Covid Bisa Tembus 2 Juta Lagi
  • Puncak Kasus Covid-19 Jawa-Bali yang Telah Terlampaui
Berita Lainnya
  • Dorong Potensi Ekspor Daerah, Bea Cukai Gandeng Pemda
  • Menkes Sebut Kebutuhan Obat tak Bisa Dikejar dengan Produksi

Menkes Sebut Kebutuhan Obat tak Bisa Dikejar dengan Produksi

Menkes Sebut Kebutuhan Obat tak Bisa Dikejar dengan Produksi

Menkes Sebut Kebutuhan Obat tak Bisa Dikejar dengan Produksi

Menkes Sebut Kebutuhan Obat tak Bisa Dikejar dengan Produksi

Menkes Sebut Kebutuhan Obat tak Bisa Dikejar dengan Produksi

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya