0
Thumbs Up
Thumbs Down

Menlu Turki Ungkap Tren Peningkatan Islamofobia

Republika Online
Republika Online - Sat, 28 Nov 2020 15:26
Dilihat: 50
Menlu Turki Ungkap Tren Peningkatan Islamofobia

ANKARA -- Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, menyatakan 2020 menjadi tahun yang menunjukan peningkatan Islamofobia, Jumat (27/11). Dunia tidak hanya berhadapan dengan pandemi virus corona, tetapi tren terhadap wacana Islamofobia, rasisme, dan anti-migran, terutama di Eropa.

Cavusoglu mengatakan pada sesi ke-47 Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di ibu kota Niger, Niamey, bahwa Eropa kekurangan pemimpin visioner, karena beberapa dari mereka bahkan berani mereformasi Islam. Dia menunjukkan bahwa perdamaian dan kesejahteraan jutaan Muslim di Barat terancam di bawah kedok kontra-terorisme.

Salah satu kasus yang Cavusoglu sorot adalah penangkapan anak-anak oleh polisi Prancis. Mereka ditahan selama lebih dari 11 jam di Albertville, Prancis, atas tuduhan palsu karena tuduhan terorisme.

"Kita harus sadar akan retorika dan tindakan berbahaya ini dan kita harus mengirimkan pesan yang jelas mengenai garis merah kita," ujar Cavusoglu dikutip dari Anadolu Agency.

Meski para Migran dan Muslim mendapatkan tekanan lebih keras di Barat, banyak yang justru memberikan kontribusi. "Namun, para migran dan Muslim terus memberikan kontribusi kepada komunitas mereka. Contoh terbaru adalah pengembangan vaksin Covid-19 oleh dua orang Turki yang tinggal di Jerman," kata Cavusoglu mengacu pada ilmuwan Ugur Sahin dan Ozlem Tureci.

Mereka menarik perhatian dunia pada November setelah perusahaan BioNTech, bekerja sama dengan raksasa farmasi AS Pfizer. Perusahan tersebut mengumumkan tingkat keberhasilan 90 persen dalam vaksin Covid-19.

Selain masalah Islamofobia, Cavusoglu pun memberikan fokus terhadap proses normalisasi hubungan Israel. Dia menekankan bahwa keputusan Israel untuk menangguhkan rencana aneksasi adalah tipuan.

"Ekspansi permukiman sudah mencapai tingkat tertinggi. Tujuan mereka jelas membuat negara Palestina merdeka, berdaulat, dan berkelanjutan secara fisik mustahil," kata Cavusoglu.

Cavusoglu memperhatikan bahwa ada kesalahpahaman yang berkembang bahwa masalah Palestina kehilangan tempat sentralnya di mata negara-negara OKI. Dia memperingatkan bahwa musuh-musuh perjuangan Palestina dapat memanfaatkannya jika negara-negara anggota tidak memperkuat persatuan.

"Jika kita tidak bisa bersatu karena alasan yang menjadi fondasi organisasi ini, bagaimana kita bisa mempertahankan persatuan umat [atau komunitas Muslim] yang akan menganggap serius kata-kata kita?" ujar Cavusoglu.

Berita Terkait
  • Polisi London Buru Pelaku Pelecehan Ibu dan Anak Muslim
  • Seks Pranikah, Menteri Denmark Picu Kemarahan Muslim
  • Pengajuan Bebas Bersyarat Pembunuh Masjid Quebec Dikurangi
Berita Lainnya
  • Main Hape di Toilet? Dokter Memperingatkan Risiko Wasir
  • Adidas Gandeng Bank JPMorgan Untuk Jual Reebok yang Terus Merugi

Menlu Turki Ungkap Tren Peningkatan Islamofobia

Menlu Turki Ungkap Tren Peningkatan Islamofobia

Menlu Turki Ungkap Tren Peningkatan Islamofobia

Menlu Turki Ungkap Tren Peningkatan Islamofobia

Menlu Turki Ungkap Tren Peningkatan Islamofobia

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya