0
Thumbs Up
Thumbs Down

Meteorit di Jerman Miliki Karbonat Tertua di Tata Surya

Republika Online
Republika Online - Sat, 23 Jan 2021 05:00
Dilihat: 69
Meteorit di Jerman Miliki Karbonat Tertua di Tata Surya

BERLIN -- Sebuah meteorit yang jatuh di utara Jerman pada tahun 2019 mengandung karbonat yang termasuk yang tertua di tata surya. Meteorit itu juga membuktikan keberadaan air paling awal di planet kecil.

Temuan diperoleh lewat Probe Ion resolusi tinggi - instrumen penelitian di Institut Ilmu Bumi di Universitas Heidelberg. Investigasi oleh Kelompok Riset Kosmokimia yang dipimpin oleh Prof.Dr Mario Trieloff adalah bagian dari studi konsorsium yang dikoordinasikan oleh Universitas Mnster dengan ilmuwan yang berpartisipasi dari Eropa, Australia dan Amerika Serikat.

Karbonat adalah batuan yang ada di mana-mana di Bumi. Batuan dapat ditemukan di pegunungan Dolomites, tebing kapur di pulau Rgen, dan di terumbu karang di lautan. Mereka menghilangkan sejumlah besar gas rumah kaca CO2 dari atmosfer, membuatnya relevan dengan iklim.

Berbeda dengan Bumi saat ini, tidak ada batuan karbonat selama pembentukan bumi purba, ketika planet mengalami terik panas. Meteorit yang jatuh ke Bumi pada September 2019, dijuluki sebagai meteorit Flensburg sesuai tempat ditemukannya. Meteorit itu diklasifikasikan sebagai kondrit berkarbon yang merupakan bentuk meteorit yang sangat tidak biasa dan langka.

Menurut Prof.Dr Addi Bischoff dan Dr Markus Patzek dari Universitas Mnster, temuan ini cukup unik.

"Pada masa awal Tata Surya, batuan tersebut secara luas terpapar cairan berair dan karenanya membentuk silikat dan karbonat yang mengandung air," tulis hasil penelitian mereka dilansir dari Science daily pada Jumat (22/1).

Para peneliti dari Institute for Planetology memandang meteorit itu sebagai blok yang mungkin telah mengirimkan air ke planet Bumi. Meteorit Flensburg diberi tanggal di Universitas Heidelberg menggunakan probe ion.

"Pengukuran seperti itu luar biasa sulit dan menantang, karena butiran karbonat dalam batuan sangat kecil. Selanjutnya, pengukuran isotop harus sangat tepat, diambil dalam rentang yang sangat sempit dengan diameter hanya beberapa mikrometer - lebih tipis dari rambut manusia," kaya Thomas Ludwig dari Institut Ilmu Bumi.

Metode penanggalan didasarkan pada laju peluruhan isotop yang terjadi secara alami - peluruhan radionuklida 53Mn berumur pendek, yang masih aktif di awal Tata Surya.


"Dengan menggunakan metode ini, penentuan usia paling tepat sejauh ini menunjukkan bahwa asteroid induk meteorit Flensburg dan karbonat terbentuk hanya tiga juta tahun setelah pembentukan benda padat pertama di Tata Surya," jelas Prof. Trieloff.

Berita Terkait
  • Ilmuwan Sebut Air di Bumi Mungkin Berasal dari Meteorit
  • Jepang Bersemangat Selidiki 'Harta Karun' dari Luar Angkasa
  • Jepang Ambil Sampel Asteroid untuk Ungkap Asal-Usul Angkasa
Berita Lainnya
  • Tentara Israel Curi dan Ubah Lahan Pertanian Palestina
  • Kasus Covid di Lebak Melonjak Jadi 1.179

Meteorit di Jerman Miliki Karbonat Tertua di Tata Surya

Meteorit di Jerman Miliki Karbonat Tertua di Tata Surya

Meteorit di Jerman Miliki Karbonat Tertua di Tata Surya

Meteorit di Jerman Miliki Karbonat Tertua di Tata Surya

Meteorit di Jerman Miliki Karbonat Tertua di Tata Surya

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya