0
Thumbs Up
Thumbs Down

Oxford akan Perdalam Studi Resistensi Antibiotik

Republika Online
Republika Online - Wed, 20 Jan 2021 06:05
Dilihat: 63
Oxford akan Perdalam Studi Resistensi Antibiotik

LONDON -- Universitas Oxford Inggris telah menerima sumbangan sebesar 100 juta pound sterling atau sekitar Rp 2 triliun untuk meneliti resistensi yang meningkat terhadap antibiotik. Hal itu diumumkan oleh Universitas pada Selasa (19/1) waktu setempat.

Sumbangan dari perusahaan kimia multinasional asal Inggris, Ineos, menjadi salah satu suntikan dana terbesar yang diterima Oxford sepanjang sejarah kampus.
Dana tersebut akan digunakan untuk membuat lembaga baru yang berfokus memerangi fenomena resistensi antimikroba (AMR) yang berkembang. AMR disebabkan oleh meningkatnya paparan obat-obatan yang mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri pada hewan dan manusia.
Menurut catatan Universitas Oxford, peningkatan resistensi antibiotik telah menyebabkan 1,5 juta kematian lebih setiap tahun. Pada tahun 2050, diprediksi akan ada 10 juta kematian karena antibiotik dan obat antimikroba lainnya tidak lagi efektif melawan penyakit umum.
Wakil rektor Oxford Profesor Louise Richardson mengatakan bahwa pandemi Covid-19 telah menunjukkan kebutuhan mendesak untuk menangani ancaman krisis kesehatan. Utamanya yang ditimbulkan akibat resistensi antibiotik.
"Kami tahu pasti ada potensi tinggi untuk pandemi lagi, kami diingatkan berkali-kali, namun kami tidak siap. Kami tahu bahwa pertumbuhan resistensi antibiotik semakin tinggi, sehingga sangat penting bagi kami untuk bertindak," kata dia seperti dikutip dari Malay Mail pada Rabu (20/1).
"Dan dampak dari ketidaksiapan terhadap pandemi, saya pikir memperkuat pentingnya bertindak sebelum terlambat," tambah dia.


Kepala Eksekutif Ineos, Jim Ratcliffe mengatakan kolaborasi antara industri dan akademisi sangatlah penting guna melawan AMR.
"Kami sangat senang dapat bermitra dengan salah satu universitas riset terkemuka dunia, dalam mempercepat kemajuan dan mengatasi tantangan global yang mendesak ini," kata Ratcliffe.
Penemuan penisilin, antibiotik pertama di dunia, dibuat di Oxford dan kemudian menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia. Bekerja sama dengan perusahaan obat Inggris AstraZeneca, tim di Universitas Oxford juga mengembangkan salah satu vaksin pertama yang melindungi dari Covid-19.
"Kegaduhan pandemi memberika banyak pelajaran. Jadi sangat jelas bahwa kita sekarang harus mencari antibiotik baru dengan urgensi yang sama seperti yang kita lakukan untuk vaksin," kata David Sweetnam, penasihat Ineos Oxford Institute.
Berita Terkait
  • Giliran Vaksin Covid-19 Oxford Inggris Dinyatakan Halal-Aman
  • Peneliti dari Oxford Ubah Karbon Jadi Bahan Bakar Jet
  • Dokter RSUI: Gunakan Antibiotik dengan Bijak
Berita Lainnya
  • In Picture: Laga The Reds dan Setan Merah Berakhir Imbang
  • Kali Pertama, Roket Virgin Mencapai Orbit

Oxford akan Perdalam Studi Resistensi Antibiotik

Oxford akan Perdalam Studi Resistensi Antibiotik

Oxford akan Perdalam Studi Resistensi Antibiotik

Oxford akan Perdalam Studi Resistensi Antibiotik

Oxford akan Perdalam Studi Resistensi Antibiotik

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya