0
Thumbs Up
Thumbs Down

Pesan Sufistik: Baca Alquran dengan Lirih, Resapi Maknanya

Republika Online
Republika Online - Sat, 14 Dec 2019 07:16
Dilihat: 44
Pesan Sufistik: Baca Alquran dengan Lirih, Resapi Maknanya

"Bacalah Alquran dengan sura lirih. Renungi maknanya dengan hati sedih. Shalat malam adalah adalah jalan membaca Alquran. Lalui dan telusuri jalan itu dengan pemahaman," begitulah pesan sufistik dari salah satu bait dalam Kasidah Munfarijah gubahan seorang sufi asal Tunisia, bernama Ibn Nahwi yang wafat pada 1119 Masehi.

Kasidah ini merupakan salah satu amalan rutin yang sering dibacakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo Situbondo. Santri Sukorejo biasanya melantunkan kasidah ini setiap bakda Subuh dan santri kerap menyebutnya "Istaddiyan".

Salah satu santri Salafiyah Syafiiyah dan dosen Ma'had Aly Situbondo, Abd Wahid kemudian melakukan kajian secara mendalam terhadap kasidah tersebut. Hasil penelitiannya dituangkan dalam buku berjudul "Selama Datang Gundah!: Anotasi Kasidah Munfarijah" ini.

Dalam bab tentang Alquran dan Salat Malam, Wahid menjelaskan bahwa Alquran adalah mukjizat yang abadi dan dapat dinikmati oleh semua generasi umat Nabi Muhammad. Ketika membaca Alquran, meskipun tidak mengerti maksudnya tetap dinilai sebagai suatu ibadah.

Sementara, yang konsisten dan mahir membacanya akan dikumpulkan dengan para rasul, bahkan yang kagok membacanya akan memperoleh dua pahala, yaitu pahal membaca Alquran dan pahala karena telah mau bersusah payah membacanya.

Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Abi Nu'aim dalam kitab "al-Musnad al-Mustakhraj ala Sahih Muslim" yang berbunyi: "Yang mahir dalam Alquran (dikumpulkan) bersama para utusan mulia yang berbakti. Yang gagap dalam membacanya dan amat kesulitan, dia mendapat dua pahala."

Lebih lanjut, Wahid menjelaskan anugerah Tuhan yang tak terhingga. Bait tersebut memiliki arti, "Anugerah Terindah tak terhitung jemari tangan. Itu untuk ketentraman jiwa dan kebahagiaan".

Menurut Wahid, makna leksikal baris puisi tersebut adalah "Anugerah Tuhan tak terhitung jemari tangan, itu untuk jiwa dan ruh yang mencari rumput".

Wahid pun menyamakan jiwa dan ruh tersebut dengan binatang ternak yang memerlukan makanan untuk bertahan hidup.

Wahid menjelaskan, makanan jiwa dan ruh adalah apa saja yang membuatnya damai, tentram, dan tenang. Hal itu berupa ilmu pengetahuan dan kesadaran pada Sang Pencipta.

Menurut dia, jiwa yang lapar adalah jiwa yang tidak tersentuh kandungan kitab suci dan buku-buku pengetahuan, sedangkan ruh yang dahaga adalah ruh yang tidak disiram oleh kesadaran kepada pencipta-Nya.

.


Berita Terkait
  • Ketika Allah Membimbing Rasul Membaca Alquran
  • Sumpah Allah Atas Waktu dalam Alquran
  • Daurah Tajwid Bersanad Komunitas Tahsin Al Ghozy Bogor
Berita Lainnya
  • Klopp Sanjung Penampilan Pemain Pelapis Liverpool
  • Instagram Perketat Pendaftaran dengan Tanggal Lahir

Pesan Sufistik: Baca Alquran dengan Lirih, Resapi Maknanya

Pesan Sufistik: Baca Alquran dengan Lirih, Resapi Maknanya

Pesan Sufistik: Baca Alquran dengan Lirih, Resapi Maknanya

Pesan Sufistik: Baca Alquran dengan Lirih, Resapi Maknanya

Pesan Sufistik: Baca Alquran dengan Lirih, Resapi Maknanya

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya