0
Thumbs Up
Thumbs Down

Saat Pakistan Tolak Ilmuwan non-Muslim

Republika Online
Republika Online - Mon, 17 Jan 2022 04:42
Dilihat: 75
Saat Pakistan Tolak Ilmuwan non-Muslim

ISLAMABAD -- Pervez Hoodbhoy, seorang fisikawan dan penulis yang tinggal di Islamabad, menuliskan kerugian yang dialami Pakistan karena menolak mengakui kehadiran ilmuwan non-Muslim.

Sebuah artikel DAWN yang mengulas tentang Har Gobind Khorana (1922-2011) membawanya kembali ke 50 tahun yang lalu. Kala itu, bersama dengan 600 mahasiswa lainnya, ia memadati ruang kuliah terbesar MIT 26-100 untuk mendengarnya berbicara.

Karena tidak mengerti dasar-dasar biologi molekuler, ia memutuskan hanya bertahan setengah jalan. Keingintahuan telah mendorong ia menuju ruangan itu, mengingat profesor MIT yang terkenal ini telah memenangkan Hadiah Nobel 1968 dan memulai bidang baru. Lebih menarik lagi, dia adalah seorang warga Lahore dengan gelar sarjana dan master dari Universitas Punjab.

Lahore disebut tidak tahu, atau bahkan tidak peduli, terkait pria ini. Hal yang sama juga berlaku untuk Subrahmanyan Chandrasekhar (1910-1995), yang menjadi Pemenang Nobel sebagai pengakuan atas karya definitifnya tentang kematian bintang.

Saat ini satelit NASA bernama Chandra menjelajahi langit untuk mencari bintang neutron, lubang hitam, dan objek astronomi tidak biasa lainnya.

Adapun kisah Abdus Salam (1926-1996) terlalu terkenal untuk diulang di sini. Ia merupakan pemenang Nobel fisika 1979, yang belajar di Government College (GC) Lahore dan mengajar di Universitas Punjab. Namun, tidak ada jalan atau landmark di Lahore yang menyandang nama Salam, Khorana, atau Chandrasekhar.

Dilansir di DAWN, Sabtu (15/1), ada sebuah lembaga afiliasi GC bernama Sekolah Studi Matematika Abdus Salam. Namun, untuk menampilkan namanya di papan nama bisa berbahaya, terlebih di kota yang sering dicengkeram oleh semangat keagamaan.

Di GC, ada dua ahli matematika dalam teori bilangan. Salah satunya adalah Sarvadaman Chowla, seorang ahli matematika ulung yang mengepalai departemen matematika dari tahun 1937 hingga 1947.

Menjadi seorang Hindu, ia meninggalkan Lahore setelah kerusuhan dimulai dan pergi ke Universitas Princeton, kemudian Universitas Colorado di Boulder, dan akhirnya menjadi profesor di Universitas Pennsylvania. Dia meninggal pada 1995 dan dirayakan sebagai ahli teori bilangan terkenal oleh American Mathematical Society dengan beberapa teorema penting atas namanya.


Berita Terkait
  • Muhammad bin Zakariya Razi Kiblat Kedokteran Eropa
  • Jacobabad, Kota Tempat Seluruh Rumah Ibadah Berdiri Berdampingan
  • Sumber: Pemimpin Senior Taliban Pakistan Dibunuh di Afghanistan
Berita Lainnya
  • Film Sci-Fi yang Memiliki Akhir Paling Pilu
  • Direktur Dortmund Terkejut Mendengar Pernyataan Erling Haaland

Saat Pakistan Tolak Ilmuwan non-Muslim

Saat Pakistan Tolak Ilmuwan non-Muslim

Saat Pakistan Tolak Ilmuwan non-Muslim

Saat Pakistan Tolak Ilmuwan non-Muslim

Saat Pakistan Tolak Ilmuwan non-Muslim

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya