0
Thumbs Up
Thumbs Down

Sektor Agribisnis Terbukti Tahan Banting Halau Resesi

wartaekonomi
wartaekonomi - Wed, 02 Dec 2020 15:50
Dilihat: 67
Jakarta

Ketidakpastian pasar masih akan membayangi ekonomi Indonesia tahun depan. Namun, kebijakan pemerintah melakukan pembatasan wilayah secara parsial telah menyelamatkan ekonomi dari ancaman resesi.

Menurut data IMF (Dana Moneter Internasional), pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 mencatat kontraksi (minus) 1,5% hingga 3,3%.

Baca Juga: Identifikasi Tipe Kelapa Sawit Demi Keberlanjutan Agribisnis Sawit

"Dampak ini dinilai masih wajar jika dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia yang minus 6,4% dan Filipina yang minus 10%," kata Ekonom Universitas Indonesia (UI) Dr Chatib Basri saat menjadi pembicara pada IPOC (Indonesian Palm Oil Conference) 2020 New Normal yang diselenggarakan secara virtual, Rabu (2/12/2020).

Mantan Menteri Keuangan itu memperkirakan, investasi swasta belum akan masuk pada tahun 2021 dengan dua alasan. Pertama, kemampuan pemerintah dalam mengatasi pandemik yang saat ini masih menjalankan protokol kesehatan. Kedua, permintaan pasar domestik dan ekspor diperkirakan masih sangat lemah.

"Akibat pandemi, sektor swasta tidak bisa beroperasi secara normal sehingga kapasitas ekonomi tidak dapat dimanfaatkan secara utuh. Maka, ekonomi tidak akan pulih sepenuhnya tahun depan dan diperkirakan akan kembali normal tahun 2022," tegas dia.

Chatib mengatakan, dalam waktu dekat akan sulit bagi beberapa industri untuk mencapai break even point, khususnya bisnis yang mengandalkan pengalaman konsumen seperti perhotelan.

"Ekspor Indonesia sangat bergantung dengan RRC dan RRC sangat bergantung dengan Eropa. Ekonomi Eropa diperkirakan tidak akan pulih lebih cepat dari tahun 2022. Maka, sektor domestik yang harus dikuatkan untuk menopang perekonomian Indonesia," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Prof Dr Bustanul Arifin mengungkapkan, meski resesi, ada beberapa sektor yang tumbuh positif. Antara lain, pada kuartal III 2020, sektor pertanian tumbuh 2,15%, pemasok air 6,04%, komunikasi 10,83%, dan jasa keuangan 1,05%.

"Pandemi Covid-19 telah memicu fenomena pedesaan jangka pendek, di mana pekerja perkotaan telah kembali ke desa dan berkecimpung di bidang pertanian," ujar Bustanul.

Perubahan kebijakan menjadi kunci utama dalam mendorong pemulihan ekonomi. Sektor pertanian dipercaya menjadi andalan menghadapi ancaman resesi ekonomi dengan dukungan terhadap petani.

"Berbicara tentang sektor pertanian, tentu subsektor utamanya adalah perkebunan sawit. Namun, sektor minyak sawit tetap menghadapi ketidakpastian pasar ekspor dan program mandatori B-30 telah menyelamatkan industri sawit saat ini," katanya.

Penulis: Boyke P. Siregar

Editor: Puri Mei Setyaningrum


Foto: Syifa Yulinnas

Sumber: wartaekonomi

Sektor Agribisnis Terbukti Tahan Banting Halau Resesi

Sektor Agribisnis Terbukti Tahan Banting Halau Resesi

Sektor Agribisnis Terbukti Tahan Banting Halau Resesi

Sektor Agribisnis Terbukti Tahan Banting Halau Resesi

Sektor Agribisnis Terbukti Tahan Banting Halau Resesi

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
pijar
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya