0
Thumbs Up
Thumbs Down

Tiga Solusi Berjangka Sehatkan JKN di Tengah Isu Defisit di Tengah Pandemi

covesia
covesia - Tue, 20 Oct 2020 19:26
Dilihat: 33
Tiga Solusi Berjangka Sehatkan JKN di Tengah Isu Defisit di Tengah Pandemi

Covesia.com - The SMERU Research Institute (SMERU) hari ini menggelar diskusi untuk membicarakan opsi-opsi solusi berjangka guna memastikan keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di tengah isu defisit, ketimpangan fasilitas dan kualitas pelayanan kesehatan, serta pandemi Covid-19.

"Dalam jangka pendek, pemanfaatan pajak dosa (sin tax) dan pelibatan swasta dalam skema koordinasi manfaat dan lain-lain dapat dioptimalkan untuk memperluas ruang fiskal pembiayaan JKN. Adapun penerapan prinsip farmakoekonomi untuk meningkatkan efektivitas perawatan dan terapi serta pendekatan know your customer (KYC) berbasis big data dapat menjadi solusi jangka menengah dan panjang," ungkap Widjajanti Isdijoso, Direktur The SMERU Research Institute di Jakarta, Senin (20/10/2020).

Lebih lanjut dikatakan Widjijanti, berbagai strategi diupayakan oleh Pemerintah dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS-Kesehatan) untuk memastikan pembiayaan JKN yang berkelanjutan.

Misalnya, pada awal bulan Juli 2020, BPJS menaikkan kembali tarif JKN untuk 13 juta peserta mandiri Kelas I dan Kelas II atau 6% dari total seluruh peserta BPJS. Sedangkan kenaikan tarif untuk 21 juta peserta kelas III baru akan diberlakukan pada Januari 2021.

"Namun upaya tersebut belum optimal untuk mengatasi permasalahan pembiayaan program JKN" ujarnya.

Pemanfaatan pajak dosa yang bersumber dari cukai tembakau, alkohol, dan konsumsi lainnya untuk pembiayaan program JKN menjadi salah satu solusi perbaikan tercepat. Sebagai ilustrasi, target penerimaan cukai pada RAPBN 2021 dipatok di angka Rp178,5 triliun. Nilai ini lebih besar dari anggaran kesehatan senilai Rp130 triliun pada 2020.

Direktur Harmonisasi Peraturan Penganggaran Kementerian Keuangan Didik Kusnaini mengatakan Sin Tax Law (STL) di Filipina berhasil mereformasi earmarking terhadap produk tembakau dan alkohol untuk mempromosikan kesehatan dan memperluas cakupan peserta asuransi PhilHealth.

"Di Australia, earmarked tax pada tembakau digunakan untuk membiayai promosi pelayanan kesehatan di Victoria (VicHealth), Australia Barat (Healthway), dan Australia Selatan (Foundation SA). Namun, untuk implementasi di Indonesia masih perlu proses legislasi yang didorong oleh berbagai pihak," katanya.

Didik menambahkan, penerapan dana dosa harus didampingi dengan alternatif lain, yakni kerja sama pemerintah dan swasta terkait koordinasi manfaat. Gagasan ini sebenarnya telah tertuang pada Peraturan Presiden No. 111 Tahun 2013, tetapi regulasi ini dinilai memerlukan peninjauan lebih lanjut.

Selain meningkatkan akses terhadap jumlah fasilitas kesehatan, kerja sama ini memungkinkan selisih biaya penanganan kesehatan ditanggung oleh asuransi komersial sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku.

Sementara itu, Ketua InaHEA dan Penasihat Kebijakan Think Well Global Prof. dr. Hasbullah Thabrany mengatakan terlepas dari sumber pembiayaan, keberlangsungan program JKN juga dipengaruhi oleh efesiensi penggunaan dana yang tersedia.

Pemilihan intervensi yang tepat dalam perawatan dan pengobatan pasien peserta JKN menjadi kunci untuk menjaga kran pembiayaan kesehatan. Terlebih semakin banyak masyarakat yang bisa mendapatkan pelayanan kesehatan pada era JKN ini.

"Dalam jangka menengah, pemilihan obat-obatan yang efektif dan efisien untuk menghemat pengeluaran JKN dapat menggunakan prinsip farmakoekonomi. Prinsip ini merujuk pada perhitungan teliti atas manfaat dan biaya penggunaan suatu obat berdasarkan hasil uji klinis yang akurat,"jelasnya.

Sebagai contoh, penggunaan farmakoekonomi digunakan untuk menilai obat infeksi yang paling efektif dengan harga yang paling rendah untuk dimasukkan ke dalam e-catalog JKN, seperti perbandingan Cyproxin 500 mg sebagai obat paten dan Siprofloksasin 500 mg sebagai obat generik," ujarnya.

Kemudian, Peneliti SMERU Nurmala Selly Saputri berpendapat pentingnya Pemanfaatan Big Data. Bagaimana dalam jangka panjang pendekatan know your customer (KYC) berbasis big data dapat diterapkan untuk menganalisis lebih lanjut karateristik kesehatan peserta JKN, mengontrol mutu dan mengendalikan biaya dalam bentuk pemantauan antipenipuan.

Rekam medis pasien merupakan salah satu sumber data penting yang perlu diperhitungkan dalam menentukan kebijakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan meningkatkan efisiensi pembiayaan.

Namun, saat ini sistem pencatatan data medis masih bersifat manual dan belum bersinergi dengan baik antara satu faskes dan faskes lainnya. Akibatnya, data yang sangat kaya tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

"Ke depan, peran para pemangku kepentingan sangat diperlukan dalam mendorong integrasi big data kesehatan di Indonesia, disertai dengan kerangka regulasi yang tepat guna menjamin privasi dan keamanan data masyarakat," imbuhnya.


(ril/ila)

Sumber: covesia

Tiga Solusi Berjangka Sehatkan JKN di Tengah Isu Defisit di Tengah Pandemi

Tiga Solusi Berjangka Sehatkan JKN di Tengah Isu Defisit di Tengah Pandemi

Tiga Solusi Berjangka Sehatkan JKN di Tengah Isu Defisit di Tengah Pandemi

Tiga Solusi Berjangka Sehatkan JKN di Tengah Isu Defisit di Tengah Pandemi

Tiga Solusi Berjangka Sehatkan JKN di Tengah Isu Defisit di Tengah Pandemi

  
PARTNER KAMI
JPNN
genpi
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya