0
Thumbs Up
Thumbs Down

Wakili Keluhan Jutaan Warga Riau: Kami Ingin Langit Kami Kembali Biru

covesia
covesia - Tue, 17 Sep 2019 20:46
Dilihat: 31
Wakili Keluhan Jutaan Warga Riau: Kami Ingin Langit Kami Kembali Biru

Covesia.com - Birunya langit seakan menjadi pemandangan terindah yang dinanti jutaan warga di Provinsi Riau. Himpitan ekonomi masih bisa dikelit dengan menekan biaya hidup, namun pengabnya udara tidak bisa dihindari, karena telah mengisi semua ruang tanpa sisa dari setiap tarikan nafas yang dihela.

Pengabnya jerebu, sesaknya nafas menjadi rutinitas yang dirasakan warga. Tidak kuat, namun harus tetap bertahan. Tidak banyak pilihan bagi sebagian warga selain bertahan dengan semua ketidaknyamanan dan ancaman bahaya kesehatan ini.

Sepertihalnya Luzi (33) seorang pekerja swasta di Pekanbaru mengeluhkan dilema yag dihadapinya. Disatu sisi sudah tidak sanggup harus berjibaku dengan pekatnya asap yang saban hari semakin menebal, ditambah dengan lembabnya udara dengan langit yang sudah tidak lagi membiru. Namun disisi lain harus tetap bertahan karena konsekwensi dari sebuah rutinitas pekerjaan yang tidak bisa di alpa.

Ia menuturkan, mungkin dirinya secara pribadi masih sanggup untuk bertahan di negeri yang berjuluk kota bertuah ini. Namun dirinya tidak sanggup harus menyaksikan anak semata wayangnya yang masih dalam usia balita, dan Ibunya yang sudah manula harus menghirup racun dari sisa-sisa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang semakin hari semakin pekat menyelimuti Ibukota provinsi Riau ini.

"Kita masih harus bekerja. Terpaksa anak dan orang tua berdiam di rumah. Meski tak ada jaminan terbebas dari efek asap, namun setidaknya sudah berusaha untuk meminimalisi dampak," tutur wanita kelahiran Sumatera Barat ini kepada covesia.com, Selasa (17/9/2019).

Tidak banyak harapan yang diharap dari warga perantuan ini selain situasi udara kembali normal, Sangat berharap secepatnya jerebu yang menyesakan ini hengkanng dari pandangan..

Rindu melihat kembali merekahnya langit seakan menjadi harapan terindah saat ini. Dirinya mengaku sangat menginginkan kondisi pulih seperti sedia kala, agar dirinya bersama keluarga bisa kembali bermain, mejalni aktivitas normal layaknya seperti biasa, bukan seperti kondisi saat ini yang seakan terpenjara dalam rumah tanpa pernah tau kesalahan dan kapan akan berakhir.

"Ingin normal seperti basanya aja," ujapnya lirih penuh harap.

Hampir sama juga diutarakan oleh Nasrul Zein (54) seorang ayah yang memiliki tiga anak ini juga sangat berharap, fenomena tahunan ini segera cepat berakhir. Ingin sekali merasakan udara kembali normal agar kekhawatiran atas kesehatan keluarganya bisa diasingkan.

Dirinya-pun mengaku tak banyak pilihan untuk menghindar dari kepungan asap yang melanda wilayah kaya minyak ini. Sementara untuk bertahan lebih lama dirasa juga tidak sanggup, sebab pengabnya udara sudah terasa mengganggu.

Pilihan untuk bertahan dalam kepungan asap merupakan suatu yang sangat sulit. Namun untuk mengungsi ke daerah asal di Sumbar bukan pula pilihan yang tepat. Sebab jika memaksa harus mengungsi berati harus menutup sementara warung makan juga merupakan satu-satunya tumpuan penghidupan keluarganya.

"Nafas sudah terasa sesak, kepala pusing. Namun jika harus mengungsi, berarti harus menutup sementara usaha disini," tuturnya penuh dilema.

Rasa gundah juga dirasa oleh Abuzar (34), pria perantauan asal Kabupaten Kerinci Jambi ini menyesalkan dengan fenomena tahahunan ini kembali terjadi. Ia berpendapat, seharusnya kepulan kabut asap ini bisa teratasi dengan segera, bilamana pemerintah sigap dan tegas dalam menangani permasalahan klasik yang terjadi di Riau ini. Namun faktanya, kepungan jerebu dari hari ke hari kian tebal menyelimuti langit, dan sekaligus mengganggu jarak pandang khusunya dalam sepekan terakhir.

"Pemerintah harus tegas terhadap para pembakar lahan terutama bagi perusahaan yang sengaja membakar lahan. Kondisi saat ini sudah sangat mengganggu, dan sudah mengganggu aktivitas warga," cetusnya dengan nada yang sedikit meninggi.

Ia berharap pihak terkait mampu mengatasi kondisi ini segera. Jika terlalu lama tidak menutup kemungkinan akan timbul masalah-masalah lain bagi masyarakat, terutama kesehatan.

"Hidup sulit akan menjadi sangat sulit jika sudah sakit. Saat ini saja jarak pandang sudah sangat terbatas. Nafas juga sudah terasa sesak," tutur Abuzar.

Dilain pihak, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Riau saat ini diakibatkan faktor kesengajaan oleh tangan-tangan jahil manusia.

Ia menduga kuat terdapat praktek pemebersihan lahan gambut yag dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Ini menunjukkan adanya praktek land clearing dengan mudah dan murah memanfaatkan musim kemarau," kata Tito dalam siaran tertulis Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Ahad, 15 September 2019.

Hari ini, Selasa (17/9/2019) Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke lokasi Karhutla di wilayah Kabuapten Palalawan, Riau. Kedatangan orang nomor satu di republik ini sekaligus membawa harapan besar bagi jutaan warga yang telah pengab dengan guramnya awang-awang.

Tidak banyak yang diharap dalam waktu dekat selain segera berakhirnya bencana ini. Ingin hidup normal, bisa kembali menghirup udara segar, serta menikmati birunya cakrawala menjadi harapan terbesar jutaan warga.

(adi)



Sumber: covesia

Wakili Keluhan Jutaan Warga Riau: Kami Ingin Langit Kami Kembali Biru

Wakili Keluhan Jutaan Warga Riau: Kami Ingin Langit Kami Kembali Biru

Wakili Keluhan Jutaan Warga Riau: Kami Ingin Langit Kami Kembali Biru

Wakili Keluhan Jutaan Warga Riau: Kami Ingin Langit Kami Kembali Biru

Wakili Keluhan Jutaan Warga Riau: Kami Ingin Langit Kami Kembali Biru

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
MuterFilm
Rancahpost
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya