0
Thumbs Up
Thumbs Down

Warga Pekanbaru yang Terbiasa Bertemu Asap

Republika Online
Republika Online - Tue, 17 Sep 2019 05:02
Dilihat: 59
Warga Pekanbaru yang Terbiasa Bertemu Asap

PEKANBARU -- Satu bulan terakhir, kabut asap menyelimuti Kota Pekanbaru. Kondisi lebih parah dirasakan warga selama 10 hari belakangan. Bahkan pemerintah telah meliburkan sekolah dan kampus-kampus demi meminimalisir jatuhnya korban dampak bencana kabut asap.

Babe (59 tahun) seorang pedagang kaki lima di Jalan Gatot Subroto, Pekanbaru, tetap beraktivitas seperti biasa menjual aneka minuman, makanan ringan dan rokok.

Babe tidak peduli dengan udara dicampuri kabut asap. Ia mengatakan sudah terlalu biasa dengan bencana kabut asap sejak puluhan tahun menjadi warga Pekanbaru.

"Kabut asap yang begini saya tidak heran. Karena lahan-lahan itu dibakar, bukan terbakar. Yang bakar siapa? ya pengusaha," kata Babe saat berbincang dengan Republika, Senin (16/9).

Walau bekerja sebagai pedagang, Babe tetap mengikuti perkembangan pemberitaan untuk cakupan Riau dan nasional. Babe merasa pemerintah baik tingkat daerah sampai pusat telah gagal menangani bencana akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Ia menilai pemerintah seperti tidak belajar dari serangkaian bencana kabut asap yang telah pernah terjadi di Riau dan di daerah Indonesia lainnya.

"Memang ada pembiaran. Siapa yang mau menyelamatkan nasib kita yang menghirup kabut asap ini. Pemerintahnya lebih peduli sama pengusaha yang nanam duit banyak. Lah kita bisa apa. Ya hirup saja asap ini," ujar Babe.

Rian (20) tahun seorang karyawan satpam di Komplek Paus di Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, juga resah kabut asap di daerahnya tak kunjung reda. Rian sendiri mengaku cukup kuat untuk bekerja di luar ruangan. Baginya memakai masker sudah cukup melindungi diri dari serangan kabut asap.

Tapi Rian mengkhawatirkan kondisi orang tuanya yang punya riwayat asma. Jadi setiap hari, Rian terpaksa bolak balik ke rumah dari tempat kerja untuk mengantarkan keperluan orang tuanya. Rian tidak ingin orang tuanya keluar rumah agar tidak terpapar asap. Karena ibunya sensitif terhadap asap.

"Biar ibu saya tidak keluar dari rumah, jadi apa-apa yang dia perlu saya yang beli atau carikan," ujar Rian.


Berita Terkait
  • Kapolri Bentuk Tim Awasi Penanganan Karhutla
  • Anak-Anak Terpapar Asap Karhutla Harus Dievakuasi
  • Warga Riau Mengungsi ke Medan
Berita Lainnya
  • IHSG Pekan Ini Berpeluang Menguat
  • Yuda Bustara Bagi Resep Saus Sambal Rumahan

Warga Pekanbaru yang Terbiasa Bertemu Asap

Warga Pekanbaru yang Terbiasa Bertemu Asap

Warga Pekanbaru yang Terbiasa Bertemu Asap

Warga Pekanbaru yang Terbiasa Bertemu Asap

Warga Pekanbaru yang Terbiasa Bertemu Asap

  
PARTNER KAMI
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
rumah123
Rumah
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
MuterFilm
Rancahpost
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar
carvaganza
mediakepri
kabarsurabaya