0
Thumbs Up
Thumbs Down

Manajemen Data dengan Open Source

Republika Online
Republika Online - Fri, 23 Mar 2018 03:14
Viewed: 128
Manajemen Data dengan Open Source

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama besar Hadoop memang tak bisa dianggap remeh dalam perkembangan teknologi perangkat lunak open source di dunia. Open source memang menjadi primadona untuk beberapa kalangan, termasuk di Indonesia. Doug Cutting sebagai pendiri Hadoop ternyata sudah melihat popularitas software open source sejak lama.

"Saya berpikir, Hadoop tidak hanya akan populer sebagai software tetapi juga open source," ujar Doug, ditemui Republika dalam sebuah Media Interview Eksklusif bersama Cloudera di Jakarta, beberapa waktu lalu. Sumber Terbuka atau open source lebih unggul karena memiliki beberapa daya tarik, salah satunya efisiensi biaya.

Doug mengungkapkan, Hadoop unggul dalam melakukan manajemen data. Seperti cara kerja open source pada umumnya, Hadoop merupakan sistem yang dikembangkan atas kerja sama dari para penggunanya dalam memanfaatkan kode sumber (source code). Ketersediaan open source cukup bebas, dan menggunakan fasilitas internet untuk menjalankannya.

Hadoop jauh lebih unggul karena terus melakukan inovasi dan perkembangan mesin dalam penggunaan open source. Tahun ini, penggunaan machine learning atau mesin pembelajar akan menjadi tren dari open source dalam melakukan manajemen dan pengolahan data. Hadoop sudah mulai mengimplementasikan teknologi tersebut.

"Semakin banyak yang pakai, maka kecerdasan mesin tentu akan lebih besar dan meningkat," ujar Doug. Sebelum mendapat kontribusi mesin pembelajar, open source sudah dianggap unggul. Ketenaran Hadoop terbukti ketika open source banyak disukai. Ketika open source mendapat dukungan mesin pembelajar, maka kolaborasi data akan jauh lebih besar sehingga analisa yang dilakukan jauh lebih akurat.

Terkait keamanan, sulit menemukan tindakan kejahatan siber di awal pembangunan sebuah sistem. Biasanya, jenis serangan terdeteksi setelah sebuah teknologi lahir sehingga tak mudah memrediksinya. Namun open source bukan berarti tidak membentengi sistem dari serangan siber. Para pemain platform open source sudah memiliki sistem keamanan tersendiri.

Doug kemudian mengembangkan Hadoop dengan menggandeng Cloudera sebagai mitra dalam mengelola teknologi Big Data. "Bukan hal mudah bergabung dengan Cloudera, butuh waktu sekitar satu tahun bagi mereka untuk membuat saya yakin bekerja sama," lanjut Doug yang saat ini menjabat sebagai Chief Architect Cloudera.


Pada awalnya, Doug tidak percaya teknologi Cloudera bisa dikombinasikan dengan Hadoop. Namun setelah memaparkan berbagai riset, Hadoop bergabung dengan Cloudera sejak 2009 silam. Hingga saat ini, kolaborasi tersebut melahirkan pertumbuhan yang signigikan terhadap penggunaan dan teknologi. Penggunaan machine learning juga membuatnya menjadi jauh lebih efisien.

Berita Terkait
  • Laptop Pertama Seluruhnya Open Source Nyaris Hadir
  • Open Source Dorong Pegguna Lebih Inovatif
  • Ribuan Praktisi Open Source 'Tumplek Blek' di ICrOSS
Berita Lainnya
  • PBNU: Kekerasan, Teror dan Radikal Bertentangan dengan Islam
  • Jet Canggih Israel Ditembak Jatuh, Ini Jawaban Netanyahu

Manajemen Data dengan Open Source

Manajemen Data dengan Open Source

Manajemen Data dengan Open Source

Manajemen Data dengan Open Source

Manajemen Data dengan Open Source

Related News
  
Popular News From Republika Online
OUR PARTNERS
JPNN
Republika Online
LIPUTAN6
okezone
BBC
bintang
bola
inilahcom
Antvklik
Rumah
rumah123
Love Indonesia
CENTROONE
wartaekonomi
Voice of America
Popular
Gocekan
Teqnoforia
Angelsontrip
Makanyuks
telsetNews
BisnisWisata
Jakarta Kita
Indonesia Raya News
RajaMobil
Mobil123
Otospirit
MakeMac
Indotelko
Inditourist
TEKNOSAINS
MotorExpertz
Mobil WOW
Oto
Kpop Chart
salamkorea
slidegossip
Hotabis
INFOJAMBI
Japanese STATION
SeleBuzz
MuterFilm
Rancahpost
Mobilmo
Cintamobil
Football5star
Citra Indonesia
OTORAI
Sehatly
Hetanews
Inikata
Nusabali
Garduoto
Beritakalimantan
batampos
covesia
carmudi
idnation
inipasti
teknorush
winnetnews
mediaapakabar